KELAMBU MERAH JAMBU
Masih ada lagi, dengan sabar dia menungguku sampai selesai menangis sambil sesekali menyeka air mataku dengan jari-jemarinya.
Selama beberapa menit yang bagiku kritis itu, kritis kuadrat, tak sepatah kata pun diucapkannya. Nggak, sungguh. Hanya sikap yang begitu lembut, hangat dan menenteramkan. Adakah anak manusia bodoh yang ingin cepat-cepat melupakan saat-saat romantis, so sweet seperti ini? Aku, nggak. Nggak akan pernah. Ya ampuuun, itu benar-benar manis. Lebih manis dari lechy tea, es krim cokelat atau anggur segar, berlipat-lipat. Kalau misalnya itu video, jujur, aku ingin memutarnya sejuta kali. Non stop, biarkan menjadi pemandangan indah yang terus-menerus berputar.
Hot Chapters