Ifat
Ucon mengacak-acak rambutnya, menarik nafas dalam, lalu mengambil gelas teh di meja dan meminum isinya yang tinggal setengah.
Ia kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar. Keluar lagi dengan membawa sebuah buku tulis berukuran cukup besar. Oh, ternyata dia menulis karyanya itu secara manual dengan pena! Kenapa? Karena ia tak punya komputer!
“Sudah sampai bab 29,” terang Ucon kemudian, meletakkan bukunya di atas meja.
“Tapi sampai di situ aku buntu. Aku berusaha lepas dari pakem Andrea dan Habiburrahman seperti yang kamu bilang. Tapi, sulit, sulit sekali. Ceritaku semakin kabur, tidak jelas arahnya ke mana.”
Sikat na Kabanata