Teman Istriku,Kekasihku
“Aku ngerti kamu capek. Tapi aku juga istri, Mas. Aku punya rasa kangen, bukan cuma ngobrol atau duduk bareng. Aku butuh kamu, dekat sama kamu.”
Ardi terdiam. Kata-kata Nisa menusuk seperti pisau. Ia tahu betul apa yang istrinya maksud. Tapi justru itu yang membuat dadanya semakin sesak. Bagaimana ia bisa memberi cinta dengan tulus, sementara hatinya terbagi pada Rani?
Nisa menegakkan tubuh, lalu menatap mata Ardi dengan serius. “Aku ini istrimu. Kalau kamu terus-terusan kayak gini, aku bisa mikir yang nggak-nggak.”