Ada sesuatu yang magis tentang menulis surat untuk seseorang yang jauh. Aku mulai dengan menggambarkan bagaimana aroma kopi pagi mengingatkanku pada kebiasaanmu yang selalu menyeduh secangkir untukku sebelum berangkat. Kemudian, aku bercerita tentang bantal di sisi ranjang yang masih kusimpan rapi, seolah-olah kau hanya pergi sebentar dan akan segera kembali. Aku menuliskan betapa sunyinya rumah tanpa tawamu yang keras, dan bagaimana anak-anak mulai menanyakan kapan ayah mereka pulang. Di antara baris-baris itu, aku menyelipkan harapan-harapan kecil, bahwa cuaca di tempatmu baik, bahwa pekerjaanmu lancar, dan bahwa kau juga merindukan kami separuh kami merindukanmu. Surat ini bukan hanya kata-kata, tapi pelukan dari jauh yang kubungkus dengan tinta dan kertas.
Terakhir, aku selalu menutup dengan janji untuk menjaga semuanya di sini sampai kau kembali. Aku menulis tentang taman kecil yang mulai kukerjakan, tentang resep baru yang ingin kucoba untukmu, tentang film-film yang sengaja kutunda karena ingin menontonnya bersamamu. Ini adalah cara sederhana untuk membuat jarak terasa lebih pendek, untuk membuat waktu berlalu lebih ringan. Dan meskipun surat-surat ini takkan pernah cukup untuk mengisi ruang yang kau tinggalkan, setidaknya mereka menjadi jembatan yang menghubungkan hati kami.