Aku selalu merasa lagu 'First Love' seperti membuka laci kenangan yang rapuh—ada hangat, ada sesak, dan selalu ada rasa tak bisa kembali.
Aku tumbuh mendengarkan lagu itu di kaset dengan nada yang selalu membuat jantungku bergetar. Dari sisi kehidupan Utada Hikaru, aku melihat banyak potongan yang menjelaskan mengapa lagu ini terasa begitu jujur: dia besar di lingkungan musik, punya pengalaman dua budaya antara Jepang dan Amerika, dan sudah bertemu dunia dewasa sejak sangat muda. Semua itu memberi kedalaman pada liriknya—bukan sekadar cerita remaja manis, melainkan refleksi tentang kehilangan, penerimaan, dan keindahan memori yang tak sempurna.
Sebagai pendengar yang lama, aku suka membayangkan Utada menulis baris demi barisnya dari sudut kecil di apartemen yang remang, memikirkan tentang kenangan pertama yang tak bisa diulang. Vokalnya yang lembut namun tegas, piano yang sederhana, dan produksi yang tidak berlebih membuat 'First Love' terasa seperti monolog intim. Lagu ini mengajarkan bahwa cinta pertama bukan soal akhir bahagia, melainkan pelajaran yang menetap di dalam diri—suatu bentuk rindu yang malah melatih kita jadi lebih utuh. Aku masih sering memutarnya ketika ingin merasa terhubung dengan versi diriku yang dulu, dan itu selalu hangat sekaligus menyakitkan.