Maduku Sahabatku
Ku pandangi wajah yang penuh luka itu, bulu matanya yang lentik, kulitnya yang putih bersih, menampakkan kecantikannya walau sedang dipenuhi luka.
Entah kenapa tiba-tiba hatiku berdesir berada di dekatnya, "Astaghfirullah, aku tidak boleh seperti ini, dia bukan mahromku." Gumamku.
Segera aku berpindah ke sofa dan menyeruput kopi dan roti bakar yang sudah aku pesan tadi, sambil mengerjakan beberapa pekerjaan di laptop yang telah Gilang bawa tadi. Sesekali aku menoleh ke arah Sinta , siapa tahu Sinta segera siuman.
Hot Chapters