SUJUD TERAKHIR EMAK
“Man, kamu itu laki-laki tampan, gagah, punya kharisma. Kalau kamu sedikit saja pakai otak, seharusnya kamu mencari wanita kaya. Iya, wanita kaya yang bisa menopang hidupmu, membantu perekonomian keluargamu. Bukan malah menikah dengan Sita, perempuan desa yang kerjaannya cuma bikin kerajinan di rumah. Apa yang bisa kamu banggakan dari dia?”
Arman menghela napas, dadanya bergemuruh menahan emosi. “Mbak… jangan hina Sita seperti itu. Dia memang hidup sederhana, tapi dia punya hati yang tulus. Dia mau menerimaku apa adanya, bukan karena hartaku.”