Kematian yang Diharapankan Suamiku
Saat hamil tujuh bulan, aku meninggal dan dalang di balik semuanya adalah suamiku sendiri.
Suamiku mendengar kabar bahwa darah bayi prematur bisa menyelamatkan adikku. Oleh karena itu, dia bersekongkol dengan klinik haram untuk membelah perutku dan mengeluarkan bayiku. Setelah menguras darah bayi itu, dia pergi begitu saja dan meninggalkan bayi prematur itu lemah hingga akhirnya mati.
Setelah kejadian itu, orang tuaku berkata, "Ini adalah utangmu pada Yurike, sudah waktunya kamu membayarnya."
Suamiku berkata, "Nanti kita masih bisa punya anak lagi. Apa nyawa anak itu lebih penting daripada nyawa Yurike?"
Karena emosi yang meluap, aliran darahku kacau dan memicu pendarahan hebat hingga akhirnya aku meninggal. Saat kesadaranku melayang di udara, aku melihat suami dan orang tuaku sibuk mempersiapkan operasi untuk adikku Mereka bahkan tidak sempat mengganti jasadku dengan pakaian jenazah yang bersih. Tak ada yang menangis untukku dan tak ada yang menjadi gila karena kepergianku.
Seluruh keluargaku mendorongku ke kamar jenazah dengan cuek, lalu mereka merayakan kesembuhan Yurike.
Saat aku kembali membuka mataku, aku sudah kembali ke tiga bulan sebelumnya. Hari itu, seluruh keluargaku memaksaku untuk bercerai.