Hangatnya Dekapan Mas Dokter
Di hadapannya kini berdiri seorang dokter muda dengan jubah putih bersih.
Pria itu memiliki perawakan yang cukup tinggi dengan paras yang ramah, namun sorot matanya yang menatap Renata tampak sedikit redup dan penuh nostalgia.
Di papan namanya tertulis jelas: dr. Arnold Wijaya.
Renata mengerutkan keningnya sekilas, mencoba mengingat-ingat. "Dokter Arnold? Maaf, saya agak lupa karena jumlah mahasiswa di angkatan kita sangat banyak, dan kita pasti berbeda kelas serta gedung fakultas."