ログインกู้ชูหน่วน หมอยอดอัจฉริยะระดับโลกได้ข้ามกาลเวลามาแล้ว แถมยังโชคร้ายโดนวางยาที่มีเพียงชายหนุ่มเท่านั้นที่ถอนพิษได้ เพื่อรักษาชีวิตเฮงซวยนี้เอาไว้ ระหว่างทางเธอจึงคว้าชายงามที่บาดเจ็บสาหัสคนหนึ่งมาช่วยถอนพิษ "ก็แค่หลับนอนด้วยกัน เจ้าไม่สึกหรอหรอกน่า" เธอพูดอย่างไม่กระดากอาย แต่กลับทำเอาเขาโมโหจนแทบลมจับ โธ่เว้ย เขาเป็นถึงเทพสงครามผู้ยิ่งใหญ่ แต่กลับแปดเปื้อนมลทินเพราะหญิงที่ไม่รู้จักหัวนอนปลายเท้า แต่ที่น่าโมโหที่สุดก็คือ นางส่ายหน้าวิจารณ์ว่า "ลีลาแย่มาก ต้องปรับปรุง" ยอดไปเลย เพราะเหตุการณ์นั้นทำให้เราต้องแต่งงานกัน ทะเบียนสมรสเพียงหนึ่งใบ นางและเขาได้กลายเป็นสามีภรรยากัน "เจ้าบอกเองไม่ใช่หรือว่าข้าลีลาใช้ไม่ได้ เช่นนั้นเรามาลองกันอีกสักครั้งไหม?" เมื่อเผชิญกับเทพสงครามที่ก้าวเข้ามาประชิด กู้ชูหน่วนเดือดดาล เดินออกห่างจากกำแพง "ไปให้พ้น ไก่อ่อนที่ไม่เคยแตะต้องผู้หญิงอย่างเจ้า ข้าไม่เชื่อหรอก หย่า ต้องหย่าเท่านั้น" "หย่าไปก็ไม่มีผล เจ้าหนีไปที่ใด ข้าก็จะตามไปที่นั้น " "..." "ชายแกร่งหญิงกล้ามาพบกัน เรื่องราวความรักแสนหวาน โปรดติดตามตอนต่อไป!"
もっと見る"Naya pulang!" Suara toa tersebut berasal dari arah pintu masuk.
Seorang lelaki separuh baya berusia 71 tahun yang sedang duduk di sofa ruang tengah, sambil membaca koran tampak terkejut sebelum menoleh kearah pintu.
Di sana, Tomi menemukan cucunya. Yang tersenyum ceria menenteng begitu banyak paper bag berisi belanjaan di kedua tangannya. Gadis berusia 19 tahun itu, lagi-lagi baru pulang dari kebiasaan sehari-harinya, yakni belanja. Tomi menggelengkan kepala melihat itu.
"Berapa banyak uang belanja yang kamu habiskan kali ini, Naya?" tanya Tomi, merujuk kepada kebiasaan shopping cucunya.
Naya mengecup sebelah pipi Tomi Sutedja setelah meletakkan seluruh barang belanjaannya terlebih dahulu ke atas sofa, lalu memeluk tubuh tua kakeknya itu dari arah samping dan duduk. Dengan sengaja, Naya menempelkan salah satu telinganya di dada sang kakek, mencuri dengar suara detak jantung kakeknya yang telah lanjut usia itu
Menyadari tingkah laku cucunya itu, Tomi hanya mendengkus.
"Syukurlah. Jantung kakek masih berdetak dengan normal."
Naya langsung merangkul satu lengan kakeknya, dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki tua tersebut.
"Kakek tenang aja, Naya gak akan bikin kakek bangkrut, kok."
Tomi menghela napas, sementara Naya langsung mendongak, menatap wajah kakeknya itu.
"Memang gak akan bikin kakek bangkrut. Tapi, kakek gak suka lihat kamu hambur-hamburin uang begitu. Kamu tahu, diluar sana, banyak orang yang hidupnya serba kekurangan. Mereka harus bekerja keras demi mendapatkan sepeser uang ...."
"Kakek ... hidup itu cuma sekali. Untuk apa peduli kehidupan orang lain. Cukup kita nikmati hidup ini. Toh, kita gak merugikan orang lain kan. Justru kek, aku sedang membantu toko-toko yang menjual barang branded itu secara tidak langsung. Karena berkat aku, barang-barang yang mereka jual itu laku."
Tomi memijit pelan pelipisnya. Sepertinya dia tidak akan menang jika harus berdebat dengan cucu kesayangannya itu.
"Kakek, sakit?"
Tomi menggeleng pelan. Mengulas senyum. Diusapnya lembut rambut panjang Naya sebelum kemudian meraih remote untuk mematikan televisi.
"Kakek sehat, Naya. Hanya saja, kesehatan kakek akhir-akhir ini mulai menurun. Mungkin ajal kakek sudah semakin dekat."
Naya menatap kakeknya dengan protes.
"Kakek jangan bicara begitu. Maut itu rahasia Tuhan. Lagi pula, memangnya kakek mau meninggalkan Naya sendirian di muka bumi ini. Gak kan?"Tomi tentu saja segera menggeleng.
"Maut memang rahasia Tuhan. Siapa yang tahu jika bisa saja nanti tuhan akan mengambil nyawa kakek keesokan harinya. Dan karena alasan itulah kakek telah mencarikanmu jodoh yang bisa menggantikan kakek dalam menjagamu jika kakek telah tiada nanti Naya."Naya mulai tidak nyaman dengan topik yang akan mereka bahas kali ini.
"Jika kakek ingin membahas masalah perjodohan itu lagi. Naya gak mau."
Naya langsung berdiri, melangkah untuk memunguti paper bag berisi barang-barang belanjaannya sejenak untuk ia bawa masuk kedalam kamarnya sendiri.
"Kakek butuh cicit."
Naya terdiam kaku, langkah kedua kakinya mendadak terasa berat setelah mendengar kalimat itu.
"Kakek butuh penerus yang bisa mengurus perusahaan keluarga kita, sayang. Dan hanya kamulah satu-satunya harapan kakek."
Tomi berdiri, tentu saja dengan bantuan tongkat kayu. Meski sebenarnya, lelaki separuh baya itu masih cukup mampu berjalan dengan normal tanpa bantuan tongkat kayu, migrain yang akhir-akhir ini kerap kali menyerangnya membuat Tomi mau tak mau harus menggunakan bantuan tongkat kayu dengan alasan takut jika sewaktu-waktu tubuhnya oleng lagi.
Sebab, Tomi sempat beberapa kali hampir terjatuh.
Naya masih diam membeku ditempatnya berdiri. Sementara Tomi Sutedja sudah berdiri tepat dihadapan cucu perempuannya itu.
"Jika tidak dengan menikah, maka kamulah yang harus mengambil alih posisi itu. Meneruskan perusahaan keluarga."
Naya tentu saja tidak mau. Bukannya apa. Tapi jujur saja, Naya itu bodoh. Dia hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Dan memimpin perusahaan sebesar Sutedja Company merupakan hal yang terdengar sangat mustahil.
Naya tidak mau perusahaan turun temurun itu jatuh bangkrut nanti hanya karena dirinya yang tidak becus. Namun, Naya juga enggan menerima perjodohan itu. Meski jujur saja di hati kecilnya yang paling dalam, gadis itu terenyuh dan tidak tega melihat kakeknya yang terlihat kian rapuh. Termakan usia masih harus memimpin perusahaan sebesar itu.
Naya benar-benar dilema dengan situasi yang menjeratnya saat ini.
"Kasihanilah kakek, Naya."
Tomi berlalu pergi. Meninggalkan Naya seorang diri di ruang tengah dengan ekspresi raut wajah kaku. Setelah kakeknya menghilang dari pandangannya, saat itulah Naya langsung jatuh duduk lemas di sofa. Kepalanya sakit. Lebih sakit lagi, melihat kakeknya putus asa seperti itu tadi.
***
Mabuk adalah jalan keluar paling basi ketika seseorang mengalami frustasi. Namun, Naya tidak punya pilihan lain daripada harus mengurung diri di dalam kamar lalu menangis seharian seperti gadis lemah saja. Naya juga tidak mau menyiksa diri dengan acara mogok makan.
Jadi, disinilah gadis itu terdampar saat ini.
Duduk disalah satu meja bar, dengan kepala yang sudah ia tidurkan di atas meja karena kepalanya mulai pening. Padahal Naya baru menghabiskan dua gelas alkohol dengan kadar rendah. Mungkin, karena Naya baru pertama kali mabuk-mabukan seperti ini.
"Mau kuberitahu satu solusi."
Naya mengangkat wajahnya, memandang kearah Celine, salah seorang teman yang biasa menemaninya shoping ataupun jalan-jalan. Naya memang tidak datang sendirian ke tempat laknat ini. Dia sengaja mengajak Celine, karena memang kebetulan hanya gadis itu yang memiliki waktu luang.
Celine meletakkan gelas ditangannya hingga menimbulkan suara bantingan yang cukup keras terdengar. Namun suaranya tentu tidak mampu mengalahkan musik yang tengah diputar DJ. Ditambah lagi semakin malam, club malam yang saat ini mereka berdua datangi akan semakin ramai dan penuh. Seperti sekarang ini, contohnya.
"Apa?"
Meskipun kepalanya mulai pening, Naya masih bisa merespon dan menangkap omongan seseorang yang mengajaknya bicara.
"Kamu harus mencari lelaki yang mau menyumbangkan benihnya untukmu. Jika kamu hamil, maka perjodohan itu otomatis akan batal karena keluarga calon suamimu pasti tidak mau punya menantu yang hamil diluar nikah. Dan bayi itu ...."
Celine meminum kembali alkohol yang baru saja diisi oleh bartender.
"... yang akan meneruskan perusahaan keluargamu. Kakekmu dapat cicit, kamu tidak perlu menikah, dan masalah selesai," jelas Celine tanpa dosa.
Naya melongo, menjatuhkan kembali kepalanya diatas meja dan tersenyum.
"Boleh juga."***
Naya bangkit dari duduknya dengan tubuh sempoyongan. Seperti ada bintang yang berputar putar di atas kepalanya saat ini. Seperti yang Celine katakan, Naya harus mencari seseorang yang mau menyumbangkan benihnya untuk Naya. Dan untuk mendapatkan itu, Naya tentu harus mencari lelaki kaya ... Ah tidak! Yang terpenting tampan. Karena Naya butuh bibit unggul dari lelaki tampan bukan lelaki kaya.
Karena itulah.
Alih-alih mencari lelaki dengan setelan jas mahal dan rapi yang bertebaran di sana malam itu, Naya justru malah menggoda seorang laki-laki asing, duduk seorang diri, mengenakan kaos hitam polos lengan pendek sehingga memperlihatkan otot kekar lengan atasnya.
Meski sempat tersandung beberapa kali, akhirnya Naya tiba di dekat kursi tempat duduk lelaki itu.
"Boleh aku duduk?" Naya bertanya.
Namun belum sempat lelaki itu buka mulut, Naya sudah menjatuhkan lebih dulu tubuhnya, tanpa mau menunggu jawaban dari si lelaki. Dan dengan tidak tahu malunya, bukannya duduk di kursi, Naya malah duduk di atas pangkuan lelaki yang tidak dikenalnya itu.
Lelaki itu, jelas saja sangat terkejut, tubuhnya tampak bergerak tidak nyaman, berusaha menyingkirkan dan mendorong paksa tubuh Naya agar segera bangkit dari atas pangkuannya. Sayangnya, Naya malah mengalungkan kedua lengannya dileher lelaki itu dan langsung menjatuhkan keningnya di bahu sebelah kirinya. Aroma musk yang tercium dari tubuh itu menguar, membuat Naya menghirup aromanya dengan rakus. Sementara jemari tangannya mulai menggerayangi tubuh proposional lelaki yang tubuhnya sudah menegang kaku. Naya tersenyum tanpa sadar.
Oh! Naya tidak bodoh. Dia memang sedang mabuk. Tapi, Naya masih bisa menilai mana lelaki tampan dan mana yang bukan. Dan lelaki yang tengah ia duduki saat ini, lebih dari sekedar tampan. Dan tubuhnya ... Naya meremas lengan atas lelaki itu yang kekar.
"Hei kamu ...."
Naya mendekatkan bibirnya di daun telinga lelaki itu. "Hamili aku."
ซี้ดดด... ทันทีที่พูดประโยคนี้ออกมา คนทั้งสำนักบัณฑิตหลวงต่างก็พากันลนลาน พวกเขารอไม่ได้แม้แต่วินาทีเดียว นับประสาอะไรกับแปดปีสิบปี หากต้องรอเป็นสิบปี เช่นนั้นผมคงได้ขาวกันก่อนแน่ "หานอ๋องเฟย หากท่านหิว ท่านก็หาอะไรกินก่อน หากเหนื่อย ก็นอนพักสักงีบ แต่สิบปีมันนานเกินไป พวกข้าได้รอจนว้าวุ่นใจเป็นแน่" "นั่นน่ะสิ หากอ่านเรื่องนี้ไม่จบ ข้าคงค้างคาใจ กินไม่ได้นอนไม่หลับ เฝ้ารอให้ท่านเขียนต่อ" กู้ชูหน่วนยิ้มเยาะ คนเหล่านี้ เห็นนางเป็นนักเขียนนิยายไปแล้วหรืออย่งไร นางว่างขนาดที่มีเวลามาเขียนนิยายให้พวกเขาอ่านกันหรืออย่างไร บัณฑิตหนึ่งในนั้นพูดด้วยความร้อนรน "ปิ่นระย้าด้ามนั้นของอาจารย์ซ่างกวานประณีตงดงาม หยกก็ยังเป็นของชั้นดี หรือว่าท่านไม่อยากได้ที่หนึ่ง ไม่อยากได้ปิ่นระย้าผีเสื้อหยกขาวแล้วหรือ" "ข้าอยากรักษาชีวิตข้าไว้มากกว่า" ทั้งสำนักบัณฑิตหลวงเสียงดังระงม บ้างก็เตือนกู้ชูหน่วน บ้างก็ส่งข้าวส่งน้ำมาให้กู้ชูหน่วน บ้างก็ตัดพ้อหานอ๋องและฮ่องเต้เย่ หากไม่ใช่เพราะพวกเขา มีหรือที่กู้ชูหน่วนจะหยุดเขียน ยังมีบางคนที่คอยวิเคราะห์เนื้อหาตอนต่อไป ซ่าง
ณ สำนักบัณฑิตหลวง กู้ชูหน่วนเขียนตั้งแต่เช้ายันค่ำ แล้วก็เขียนต่อตั้งแต่ค่ำยันเช้า เขียนจนปวดระบมไปทั้งแขน ข้างหูมีเสียงกระซิบกระซาบ เสียงวิพากษ์วิจารณ์ดังขึ้นไม่หยุด ทั้งยังมีคนจำนวนไม่น้อยเร่งให้นางเขียนเร็วๆ กู้ชูหน่วนโมโห โยนพู่กันขนสัตว์ในมือทิ้ง "รอดูเฉยๆก็เลยไม่เหนื่อยกันใช่หรือไม่ หากพวกเจ้าเร็วนัก เช่นนั้นก็มาเขียนเองเลย" "หานอ๋องเฟย เป็นเพราะท่านเขียนดีเกินไป พวกเราอ่านแล้วก็อดรู้สึกค้างคางใจไม่ได้ อยากจะอ่านทั้งหมดให้จบ" กู้ชูหน่วนร้อนจนต้องถกแขนเสื้อ คนพวกนี้มุงล้อมนางทั่วทุกทิศ อยากให้นางหายใจไม่ออกหรืออย่างไร "อยากให้ข้าเขียนต่อละก็ พวกเจ้าทุกคนถอยหลังไปคนละยี่สิบก้าว ห้ามเข้าใกล้ข้าอีก" หากไม่ใช่เพราะอยากได้ปิ่นระย้า นางไม่มีทางทนจนถึงตอนนี้ ทุกคนต่างก็ไม่ยอมถอย หากถอยหลังไป พอนางเขียนสิ่งใด พวกเขาก็จะมองไม่เห็น แต่หากพวกเขาไม่ถอยไป ก็กลัวกู้ชูหน่วนจะโมโห แล้วเลิกเขียนไปกะทันหัน ถึงเวลานั้นจะเสียหายหนักกว่าเดิม ทำได้เพียงแค่ถอยไปพร้อมกัน ในระหว่างที่กู้ชูหน่วนกำลังไม่สบอารมณ์เป็นอย่างยิ่ง ชิงเฟิงพลันปรากฏตัวขึ้นปุบปับ เขาทำความเคารพ แล
"หากพระชายาเขียนตามแบบฉบับนี้และเรื่องนี้ถูกเผยแพร่ออกไป เช่นนั้นเจ้าก็ไม่ต้องกลับมาที่จวนหานอ๋องอีก" "ขอรับ…" ชิงเฟิงรับคำสั่งด้วยใบหน้าสลด ตั้งแต่ที่พระชายาเข้ามาในจวนอ๋อง เขาก็ไม่เคยได้มีชีวิตที่สงบสุขเลยสักวัน เจี้ยงเสวี่ยรีบโพล่งออกมา "นายท่าน ข้าน้อยจะรีบไปบอกให้เรือนชาลฟ้าดำเนินการสืบหาก่อน" ไม่รอเย่จิ่งหานตอบตกลง เจี้ยงเสวี่ยก็แผ่นแน่บออกไปทันที ชิงเฟิงได้แต่นิ่งอึ้ง เหตุใดเขาถึงได้ลืมวิธีนี้ไปอีกแล้ว ต่อไปเรื่องที่เกี่ยวข้องกับพระชายา เขาก็จะรีบเปิดแน่บไป ทิ้งปัญหาไว้ให้กับเจี้ยงเสวี่ยบ้าง ณ คฤหาสน์หลังหนึ่งในเมืองหนานเฉิง นิ้วเรียวขาวดุจหยกของหัวหน้าเผ่าหมอ ปลายนิ้ววาดผ่านเรื่องสั้นหน้าแล้วหน้าเล่า ใบหน้าที่ร้ายกาจมุ่นคิ้วเป็นระยะ บ้างก็อมยิ้ม บ้างก็เสียใจ อารมณ์เปลี่ยนแปลงไปตามเนื้อหา ในที่สุดเขาก็อ่านจนจบ เขาขมวดคิ้วมุ่นด้วยความไม่พอใจ "ที่เหลือเล่า" "นายท่าน บ่าวรับใช้ยังไม่ส่งมา คงใกล้มาถึงแล้ว" “จะช้าเกินไปหรือเปล่า ในเมื่อเดินช้าเช่นนี้ จะเก็บขาเขาไว้ทำไม ตัดทิ้ง แล้วส่งผู้ที่รวดเร็วกว่าไป” "ขอรับ" เซวี่ยซาปาดเหงื่อ
ต้องรู้ก่อนว่านางเอกหยางฉู่รั่วไม่เพียงแต่มีสัมพันธ์กับเซวียนหยวนจิ่นเจ๋อ ยังมีสัมพันธ์กับพระรองเฟิงหลิง ที่สำคัญที่สุดคือ ยังมีสัมพันธ์กับเฟิงหลิงบนเตียงของฉู่หนิงเฉินอีกด้วย เขียนให้ฉู่หนิงเฉินไร้ประโยชน์ขนาดนี้ นายท่านของพวกเขาเป็นถึงผู้ใด ฉู่หนิงเฉินจะเทียบได้อย่างไร เย่จิ่งหานรู้สึกว่าชิงเฟิงพูดถูก แต่ก็เหมือนจะมีบางอย่างไม่ถูกต้อง ระหว่างที่มองตัวหนังสือเหล่านั้น เขาก็พึมพำกับตัวเอง "นางใช้หยางฉู่รั่วเป็นร่างสมมติของตัวเอง จงใจจะให้ข้าอ่านเรื่องนี้ ให้ข้ารู้ว่านางต้องใช้ชีวิตอย่างยากลำบาก ให้ข้าทะนุถนอมนางหน่อยเช่นนั้นหรือ" ชิงเฟิงเจี้ยงเสวี่ยกระตุกมุมปาก หยางฉู่รั่วตัวคนเดียวไร้ที่พึ่ง อ่อนแอบอบบาง พระชายาของพวกเขาใช่ผู้ที่ใจดีอ่อนแอ ปล่อยให้คนรังแกได้เสียเมื่อไหร่ แต่ไหนแต่ไรมาก็มีแต่พระชายารังแกผู้อื่น ยังไม่เคยเห็นผู้ใดจะทำให้พระชายาเสียเปรียบได้ แม้แต่นายท่านของพวกเขาก็ถูกพระชายาควบคุมบงการครั้งแล้วครั้งเล่า ไม่มีวิธีต่อกรกับนางเลยสักนิด "พวกเจ้าว่า เฟิงหลิงในเรื่องที่พระชายาเขียนคือผู้ใด หัวหน้าเผ่าหมอหรือว่าเซียวอวี่เชียน?" "เรื่องนี้...นายท่าน ไ


















評価
レビューもっと