Masukหนึ่งคนต้องการแก้แค้นให้สหายรักที่ถูกฆ่าล้างตระกูลอย่างไม่เป็นธรรม อีกหนึ่งคนต้องการเพียงความจริงที่ตนถูกกระทำจากคนที่ไว้ใจ... เมื่อทั้งสองต้องมาร่วมมือกัน เรื่องราวมากมาย นำพามาซึ่งความเห็นใจ ก่อเกิดเป็นความรักระหว่างกัน จนยากที่จะถอนตัว...
Lihat lebih banyakCahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang terlalu jauh dalam sensasi panas yang mendominasi kamar ini.
Malam ini Ariyan yang baru pulang kerja terlihat lelah. Dan Zivanya tahu pria itu hanya butuh pelarian. Zivanya dengan bodohnya selalu bersedia menjadi pelarian baginya.
Sambil terus bergerak, Ariyan mencumbu dan mengecup leher Zivanya, menciptakan tanda kepemilikan yang besok akan disesali Zivanya, tapi sekarang terasa begitu memabukkan.
Ariyan bergerak semakin cepat. Zivanya hanya bisa mengikuti, membiarkan tubuhnya diambil alih.
Saat Ariyan mengangkat sedikit tubuhnya untuk mengganti posisi, kemeja pria itu yang tadi hanya terbuka kancingnya kini tersingkap lebar sebelum ia jatuhkan ke lantai.
Di situlah Zivanya melihatnya. Jelas, di bawah temaram cahaya.
Tepat di dada kiri Ariyan, di atas jantungnya, terukir sebuah tato permanen dengan huruf cursive yang rapi.
Aira.
Ini bukanlah yang pertama. Sudah ratusan malam Zivanya melihatnya. Tapi efeknya tidak pernah berbeda.
Darah Zivanya rasanya berhenti mengalir. Jantungnya berpacu liar. Bukan karena gairah, melainkan karena rasa sakit yang menghantam ulu hatinya.
Ariyan menandai tubuhnya dengan nama wanita lain. Wanita yang selalu dia sebut sebagai masa lalu yang rumit, tapi jelas masih menguasai masa kininya.
Zivanya merasa sangat sakit. Di saat Ariyan sedang menyatukan tubuh dengannya, nama wanita lain melekat di kulitnya, ikut bergesekan dengan kulit Zivanya.
Seketika, seluruh hasratnya sirna.
“Ari...” Zivanya mencoba mendorong bahu pria itu.
Ariyan tidak peduli. Ia sedang berada di ambang puncaknya. Ia terus memacu dirinya, mengabaikan perlawanan kecil Zivanya.
Zivanya memalingkan wajah ke samping, memandang dinding kosong. Sudut-sudut matanya terasa panas. Setiap sentuhan Ariyan sekarang terasa menjijikkan. Ia merasa seperti benda mati yang sedang digunakan untuk memuaskan syahwat pria yang hatinya sepenuhnya adalah milik orang lain.
Tepat di saat Ariyan mengerang karena mencapai pelepasannya, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Getarannya terasa hingga ke tempat tidur.
Drrrt… Drrrt… Drrrt…
Ariyan rebah di atas tubuh Zivanna bersama napasnya yang tersengal-sengal di telinga wanita itu.
Ponsel berwarna hitam tersebut tidak berhenti bergetar.
Ariyan mengesah kesal, lalu menarik diri dari Zivanya. Ia duduk di tepi tempat tidur membelakangi istrinya dan mengambil ponsel.
“Halo.”
Zivanya duduk perlahan. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
“Sakit? Sejak kapan? Kamu sudah minum obatnya?” suara Ariyan kini berubah panik. Ia langsung berdiri, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja selesai bercinta dan tidak berpakaian.
“Oke, oke, tenang. Jangan panik. Aku ke sana sekarang.”
Panggilan ditutup dengan tergesa. Mata pria itu bergerak liar mencari pakaiannya di lantai. Ia tidak menatap Zivanya sedikit pun.
“Aira sakit. Aku harus pergi,” ujarnya singkat sambil menarik celananya. Ia bahkan tidak perlu repot-repot memakai celana dalam.
Zivanya memandangnya dengan pandangan kosong. Rasa sakit di hatinya sudah sampai di titik di mana ia tidak bisa lagi marah.
“Dia sakit apa?” tanya Zivanya pelan, datar tanpa emosi.
Ariyan mengancingkan celananya dengan gerakan yang semakin panik. “Aku nggak tahu. Dia Cuma bilang perutnya sakit. Mungkin maagnya kambuh lagi. Dia sendirian. Aku harus ke sana sekarang.”
Zivanya memang tidak ingin marah. Ia sudah terlalu lelah untuk itu. Ia sudah menerima sejak lama bahwa dirinya bukan prioritas. Tapi melihat Ariyan yang begitu panik demi wanita lain tepat saat mereka selesai bercinta, kalimat itu keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan.
“Dia selalu sakit di saat kamu bersamaku. Apa kamu nggak sadar?”
Tangan Ariyan yang sedang memasang kancing kemeja sontak terhenti. Ia menatap Zivanya untuk pertama kalinya sejak ponselnya berdering. Sorot matanya terlihat begitu dingin.
“Ini bukan waktunya untuk cemburu. Dia butuh aku.”
“Dan aku? Apa aku nggak butuh kamu?”
Ucapan istrinya membuat Ariyan memberikan wanita itu tatapan tajam.
“Kamu lupa aku nggak pernah menginginkan pernikahan ini? Kalau bukan karena orang tua kita, bukan kamu yang menjadi istriku. Tapi Aira!”
Zivanya terpaku. Jawaban suaminya membuat hatinya tersayat-sayat. Ia sadar betul akan hal tersebut. Ia sudah menghafalnya di luar kepala, namun mendengarnya langsung dari mulut Ariyan di saat keringat mereka bahkan belum kering, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup.
“Aku tahu,” jawab Zivanya lirih. “Aku tahu kamu nggak pernah menginginkanku. Tapi setidaknya, hargai aku sebagai istrimu.”
“Jangan terlalu banyak menuntut,” jawab lelaki itu tidak suka. Ia sudah berhasil memasang kemejanya lalu menyambar kunci mobil di atas nakas. Tidak ada kecupan pamit atau tatapan menyesal. Yang ada hanya punggung pria itu yang menjauh dengan tergesa, mengejar wanita yang ia sebut sebagai cinta sejati.
“Jangan menungguku. Aku mungkin menginap di sana kalau kondisinya parah,” ucap lelaki itu sebelum menghilang di balik pintu dan menutupnya dengan sedikit bantingan.
Zivanya tetap duduk di tempat tidur yang berantakan. Bau maskulin Ariyan masih tertinggal di bantal, namun pemiliknya sudah lari mengejar wanita lain.
Aira adalah anak angkat orang tua Ariyan yang diadopsi sejak berumur tiga tahun. Setelah dewasa, keduanya saling jatuh cinta. Orang tua Ariyan yang tidak setuju pada hubungan mereka, menjodohkan Ariyan dengan anak sahabatnya, yaitu Zivanya. Zivanya menerima perjodohan itu karena sejak Sekolah Menengah Pertama ia sudah jatuh cinta pada laki-laki itu. Perasaan Zivanya sangat bahagia dinikahkan dengan Ariyan sebelum ia tahu Ariyan sudah memiliki wanita lain di hatinya.
Lamunan Zivanya buyar karena listrik yang tiba-tiba mati. Ia mengambil napas dalam-dalam, menelan pahitnya kenyataan bahwa malam ini, sekali lagi, ia kalah untuk ke sekian kalinya.
***
พิเศษส่งท้ายเช้าอันสดใสมาเยือน หลงฝูหยางตื่นมาด้วยหน้าตาสดใสทั้งยังอารมณ์ดีไม่น้อย มองคนที่นอนทับตนเองอยู่ก็ได้แต่ยิ้มอย่างมีความสุข“เพ่ยเพ่ย” เสียงทุ่มเข้มเอ่ยเรียกร่างบางเสียงเบาราวกับกำลังหยอกล้อ“อืม” จางหยวนเพ่ยที่ถูกรบกวนส่ายหน้าไปมากับอกของหลงฝูหยางก่อนจะหลับลงไปอีกครั้ง“หึหึ” เสียงหัวเราะที่เต็มไปด้วยความเอ็นดูนี้คงมีแต่จางหยวนเพ่ยเท่านั้นที่ได้รับมัน เมื่อเห็นว่าอีกคนไม่ยอมตื่นง่าย ๆ หลงฝูหยางก็ไม่คิดจะก่อกวนต่อ แขนแกร่งโอบคนบนตัวเอาไว้หลวม ๆ มือหนาลูบแผ่นหลังบางเป็นการกล่อมไปด้วย“อืม” เสียงครางแผ่วอย่างพอใจดังขึ้นให้ได้ยินจนอดเอ็นดูไม่ได้ ริมฝีปากหนาจึงกดจูบเบา ๆ ที่กลุ่มผมดำนุ่มนั้นหนึ่งทีในช่วงสายของวัน หลี่อิงกับเฟยเทียนจึงแวะมาดูอาการหลงฝูหยางอีกครั้งหลังจากที่ตอนแรกตั้งใจจะมาตั้งแต่เช้าแล้วแต่กลับถูกห้ามเอาไว้เสียก่อน ในตอนนั้นยังไม่เข้าใจว่าเกิดอะไรขึ้นแต่พอมาเห็นภาพตรงหน้าแล้วก็อยากจะเดินกลับเรือนเสียเดี๋ยวนั้น“นี้ใจคอพวกท่านไม่คิดจะลุกขึ้นมาต้อนรับแขกหน่อยหรือเจ้าคะ”หลี่อิงเอ่ยขึ้นอย่างเหนื่อยใจ เมื่อเดินเข้ามาภายในเรือนแล้วพบว่าทั้งสองคนยังนอนกอดกันกลมไม่ปล่อ
งานเทศกาลหยวนเซียวที่คึกคักไปด้วยผู้คน สองร่างในชุดสีแดงดำเดินเคียงกันอย่างมีความสุข สองมือผสานกันเอาไว้แน่นอย่างไม่เกรงสายตาใคร หนึ่งงดงามหนึ่งคมคายเป็นเป้าสายตาของผู้คนเสียเหลือเกินแต่ก็มิได้รู้สึกแปลกตาแต่อย่างไรเพราะก็มีแบบนี้ให้เห็นอยู่เนื่อง ๆ อีกทั้งขุนนางบางคนยังมีฮูหยินรองหรืออนุที่เป็นบุรุษด้วย“เจ้าเคยมาเดินงานเทศกาลหยวนเซียวบ้างหรือไม่” จางหยวนเพ่ยเอ่ยถามคนที่จับจูงมือกันอยู่“ไม่เคย” หลงฝูหยางส่ายหน้าก่อนจะหันมาตอบร่างเพรียวบางด้านข้าง“แล้วมาที่นี่บ่อยหรือไม่ จำได้ว่าตอนนั้นที่เจอกันก็เป็นที่ต้าถงนี้” จางหยวนเพ่ยยังคงถามอีกต่อเรื่อย ๆ“ไม่บ่อยนัก ส่วนใหญ่แล้วจะเป็นอยู่ที่พรรคเป็นหลักหรือไม่ก็ไปที่อื่นเสียมากกว่าที่ต้าถง แต่เมื่อสองปีก่อนปรากฎสมุนไพรหายากขึ้นเลยเข้ามาที่นี่บ่อยขึ้น”“หืม”“โรงประมูลชิงหลงนั้นอย่างไร” หลงฝูหยางเอ่ยขึ้นยิ้ม ๆ เมื่อเห็นสีหน้าฉงนของจางหยวนเพ่ย“เอ๋ ของเจ้าหรือ” ร่างบางเอี้ยงคอถามอย่างน่ามอง ดวงตาใสแวววาวอย่างตื่นเต้น“ใช่ ให้เว่ยเหลียงเป็นคนดูแล” หลงฝูหยางไขข้อกระจ่างให้ร่างบาง“ถ้านังหนูหลี่อิงรู้ว่าท่านเป็นเจ้าของคงโดนป่วนแน่” จางหยวนเพ่ยเอ
รุ่งเช้ามาเยือนเหล่าศิษย์ทั้งหลายผู้เป็นเด็กดีทำตัวเป็นห่วงอาจารย์ผู้เป็นที่รักยิ่งมายืนรออยู่หน้าเรือนด้วยใบหน้ายิ้มแย้มแจ่มใสกันทุกคนจนกระทั่ง“ข้าง่วง พวกเจ้ากลับไปเลยไม่ต้องมาก่อกวนข้า” เสียงทุ้มนุ่มลอยออกมาจากในเรือนไม้แต่กลับไม่เห็นตัวคนจนเหล่าเอ่ยแซวกันเป็นแถบ“แม้อาจารย์ ผู้ชายมาเยือนเรือนลูกศิษย์ถึงกับไม่มีความหมายเลยหรือขอรับ” หวังเลี่ยงรุ่ยเอ่ยน้ำเสียงหยอกเย้าผู้เป็นอาจารย์จากนอกเรือน“ไปไกล ๆ เลยเจ้าเด็กพวกนี้”“หึหึ ขอท่านประมุขอย่าหนักมือนักเล่า” หลิวหยางเอ่ยขึ้นกั่วเสียงหัวเราะชอบใจก่อนจะพากันสลายตัวไปทำหน้าที่ของตนเองกลับมาภายในเรือนตอนนี้ร่างเพรียวบางของจางหยวนเพ่ยกำลังนอนทับอกของหลงฝูหยางอยู่ใบหน้าคมสวนงอง้ำอย่างไม่สบอารมณ์เมื่อถูกก่อกวนตั้งแต่เช้าทั้งที่พึ่งได้นอนไปเพียงนิดเดียว“ถ้าง่วงก็หลับต่ออีกหน่อยเถอะ” หลงฝูหยางเอ่ยเสียงนุ่มทั้งยังลูบแผ่นหลังเนียนเป็นการกล่อมอีกคน“ไม่เอา ข้าอยากคุยกับเจ้ามากกว่า” จางหยวนเพ่ยเอ่ยเสียงอ่อยนิ้วเรียวลูบไล้ไปบนแผ่นอกชายหนุ่มเล่นอย่างไม่รู้จะทำอันไร“เรื่องของเราหรือ” หลงฝูหยางก้มหน้าลงมาถามเสียงแผ่ว“อืม”“ว่ามาเถอะ ข้าเชื่อฟังท
หนึ่งเดือนต่อมาเรื่องที่อินจางเหว่ยได้ก่อเอาไว้ถูกชำระความเรียบร้อยแล้ว จ้าวจางเว่ยและหลงจ้าวอินจบชีวิตตนเองลงในหอลงทัณฑ์ ส่วนอินจางเหว่ยนั้นหลงฝูหยางไม่ยอมให้อีกคนตายง่ายดายถึงเพื่อนั้น เขาถูกขังเอาไว้ในส่วนพิเศษในหอลงทัณฑ์ตรึงร่างด้วยโซ่ตรวนไม่ให้คิดฆ่าตัวตาย ให้ทดทุกข์ทรมานกับพิษที่ได้รับรวมถึงพิษที่เจ้าตัวปรุงขึ้นอย่างเพลิงผลาญฤทัยเก้าสุริยันจนกว่าจะตายจากมันไปข้างหนึ่งเรื่องที่ต้องสะสางก็จัดการเรียบร้อยแล้ว ที่นี่ก็คงเหลือในเรื่องของหัวใจที่ยังไม่มีความกระจ่างอะไรเลย และตอนนี้บรรยากาศภายในเรือนพักของหลงฝูหยางนั้น ช่างชวนให้คนที่อยู่ด้วย อยากจะหนีออกไปเสียจริง แต่ก็ทำไม่ได้“เอ่อ ท่านประมุขขอรับ ข้าว่าถ้าไม่มีใจจะอ่าน ไป ไป ที่นี่อยากไปดีหรือไม่ขอรับ” จางเฉินเอ่ยขึ้นอย่างกล้า ๆ กลัว ๆ ก่อนจะได้รับสายตาคมที่ตะวัดมองมาจนเจ้าตัวสะดุ้งโหยง“ข้าเห็นด้วยกับจางเฉินนะขอรับ ไปหาสักหน่อยก็ไม่น่าจะเป็นอะไรไม่ใช่หรือ ดีกว่านั่งจมอยู่อย่างนี้แล้วตนเองไม่มีความสุขนะขอรับ” จางหลินเองก็เห็นด้วยกับความคิดของจางเฉิน ตั้งแต่ที่อีกคนกลับไปหลังจัดการทุกอย่างเสร็จแล้ว ผู้เป็นนายของพวกเขาก็เอาแต่นั้งท
“ข้าจะรับเอาไว้เอง และจะให้เขาชดใช้อย่างสาสม” หลงฝูหยางกล่าวให้คำมั่น หวังเลี่ยงรุ่ยจึงหันไปมองศิษย์น้องของตนเองเมื่อเห็นแววตาของทุกคนแล้ว เขาจึงหันกลับมาหาหลงฝูหยาง“ได้ พวกข้าจะให้ท่านเป็นคนจัดการ”ปึ้ง!ร่างของอินจางเหว่ยถูกเหวี่ยงไปที่ปลายเท้าของหลงฝูหยางทันทีด้วยน้ำมือของจางหยวนเพ่ย นั้นยิ่งสร
ในขณะที่พวกเขากำลังจดจ่ออยู่กับการต่อสู้ตรงหน้า คนกลุ่มหนึ่งก็ได้ทำการเก็บกวาดศัตรูอย่างเงียบเชียบก่อนจะส่งคนของตนเองเข้ามาแทนจนที่สุดทุกอย่างก็พร้อมแล้วจางหยวนเพ่ยได้รับสัญญาณจากเหล่าลูกศิษย์แล้วจึงมองสบตากับหลงฝูหยางที่เล่นถ่วงเวลาอยู่กับหลงจ้าวอิน ร่างสูงรับรู้ได้ทันทีก่อนจะปิดจบฉากการต่อสู้นี้
“ยังไม่ได้รับสัญญาณเลย ท่านก็ใจร้อนเกินไป” จางหยวนเพ่ยเอ่ยอย่างเหนื่อยใจกับความใจร้อนของคนข้างกาย“ถ้าให้รอสัญญาณแล้วต้องมันแตะต้องท่าน ข้าจัดการเองง่ายกว่า”หลงฝูหยางเอ่ยอย่างไม่สบอารมณ์ยิ่ง ใบหน้าคมบูดบึ้งอย่างไม่พอใจที่ร่างบางปล่อยให้คนอื่นเข้าใกล้ถึงเพียงนี้ ก่อนจะตวัดตาคมมองหลงจ้าวอินอย่างไม่พ
เรือนพักหลงฝูหยางที่ตอนนี้มีการดูแลอย่างเข้มงวดโดยคนของอินจางเหว่ย หากไม่ได้รับอนุญาตจากชายผู้นั้นก็ไม่มีใครสามารถผ่านเข้าไปได้แม้แต่คนเดียว“ข้าเข้าไม่ได้ หมายความว่าอย่างไร” จางหลินเอ่ยขึ้นอย่างฉงน เมื่อออกไปทำธุระด้านนอกมาครึ่งวันแต่พอจะกลับเข้าเรือนพักของผู้เป็นนายกลับไม่สามารถเข้าไปได้“ไม่มีค

















