LOGINนางรักเขาหมดใจ แต่เขากลับมองไม่เห็นค่า ยังพอทำใจอดทน แต่เขากลับกินไม่เลือก แม้แต่สหายรักของนางเขาก็ไม่เว้น เห็นทีรักนี้คงต้องตัดใจ ในเมื่อรักมากไปแล้วไร้ตัวตน เช่นนั้นนางก็จะถอยมารักเพียงตนเองก็พอ!!!
View More"Happy Anniversary, Mas!" seru Karin sesaat setelah pintu terbuka.
Karin tersenyum lebar dengan kue di tangannya. Namun, seketika senyum itu hilang, ketika dia melihatku berdiri di ambang pintu dengan seorang wanita berambut cokelat yang bergelayut manja di lengan. Senyum bahagianya telah berubah dengan raut penuh tanya.
"Mas?" Karin menatapku dan Ayu bergantian.
Aku tersenyum hambar. Mencoba melepaskan tangan Ayu, tapi dia menolaknya.
"Aku pulang, Karin," ucapku dengan rasa yang sulit dijelaskan. Kebahagiaan yang sempat kurasakan tiga hari lalu saat berbulan madu kedua bersama Ayu, kini hilang seketika melihat sorot mata Karin yang penuh tanya.
"Apa kita mau berdiri terus di sini, Malik?" tanya Mama dari belakangku dengan suara ketus.
"M–Masuk, Mas," ucap Karin setelah lama dia terdiam menatapku.
Aku berjalan melewati Karin dengan Ayu yang terus saja menempel bak perangko. Kami duduk di sofa panjang bersama Mama, sedangkan Papa duduk di kursi single.
Aku menoleh pada Karin. Dia masih termenung di dekat pintu dengan kue di tangannya. Ada yang berdenyut nyeri di dalam sini melihatnya seperti itu. Namun, semua sudah terjadi. Bagaimanapun juga, Karin harus bersedia berbagi dan menerima semuanya dengan ikhlas.
"Karin! Sini, Nak!" panggil Papa padanya.
Karin mengangguk, lalu melangkah perlahan mendekati kami. Meletakkan kue hari jadi pernikahan di meja, lalu duduk di sofa yang berseberangan denganku. Tatapan kami beradu. Lewat sorot matanya, dia seakan bertanya siapa wanita yang tak pernah mau berhenti merangkulku.
"Ada apa ini, Mas?" Setelah cukup lama diselimuti keheningan, akhirnya Karin membuka suara.
"Dengar, Karin! Mulai malam ini—"
"Ma!" potong Papa. "Biarkan Malik sendiri yang menjelaskannya pada Karin. Ayo, Malik! Katakan yang sejujurnya tanpa ada yang ditutup-tutupi." Papa menatapku dengan sorot mata tajamnya.
Aku mengangguk, lalu menatap kembali Karin yang semakin terlihat kebingungan.
"Karin," panggilku, lalu menelan ludah dan menarik napas dalam-dalam. Segala kata yang sudah kupersiapkan dari awal, seketika lenyap saat melihat raut wajah tak berdosa itu.
Sejahat ini ternyata aku padanya.
"Ada apa, Mas? Mas membuatku takut saja." Karin tertawa kecil. Tawa yang jelas terlihat dipaksakan hanya untuk menyembunyikan perasaannya.
"Ayolah, Mas! Katakan saja yang sebenarnya. Tidak perlu ragu apalagi takut. Atau aku saja yang bilang. Ya?"
"Diamlah, Ayu!" tukasku penuh penekanan.
Ayu mencebik kesal, tapi tak juga melepaskan rangkulannya di lengan. Ditambah lagi, dia dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahu ini.
"Karin ...." Aku menjeda ucapanku untuk kembali menarik napas dalam-dalam. "Ini Ayu, Karin—Madumu," ungkapku pada akhirnya.
Karin terpaku sejenak menatapku, tapi tak lama dia tertawa kecil.
"Mas ini lucu. Mas lagi mengerjaiku, 'kan?" tanyanya di sela tawa kecilnya. "Kalau begitu ... selamat, Mas! Mas berhasil membuatku hampir terkena serangan jantung," ujarnya, lalu kembali tertawa.
Aku dan Papa saling melempar pandang. Papa mengisyaratkan dengan matanya agar aku melanjutkan penjelasan tadi.
"Karin ...."
"Ya, Mas?" Karin berusaha menghentikan tawanya, lalu kembali tersenyum menatapku. Senyum manis yang dulu membuatku tergila-gila.
"Aku sedang tidak bercanda, Karin. Ayu istri keduaku. Kami sudah menikah tiga hari yang lalu," ungkapku dengan lancar meski ada yang berdenyut nyeri di ulu hati.
Hening.
Karin menatapku dalam diam. Mata bulat indahnya mulai dipenuhi kaca-kaca. Dia menangis tanpa sepatah kata terucap. Tetesan demi tetesan air matanya cukup menjelaskan betapa dia terluka dengan keputusan sepihak ini.
"Maafkan aku, Karin."
"Untuk apa kamu minta maaf, Malik? Memangnya apa yang kamu lakukan ini salah? Memiliki istri lebih dari satu bukan sesuatu yang tabu, 'kan? Toh, kalau saja dia hamil juga kamu tidak akan menikah lagi!"
"Cukup, Ma. Tolong ... biarkan aku menyelesaikan masalah ini sendiri," kataku pelan, tapi ada penekananan di setiap katanya.
Mama mendelik tajam, lalu kembali duduk bersandar dengan kedua tangannya dilipat di dada.
"Apa salahku, Mas?" tanya Karin dengan suara bergetar.
"Kamu tidak salah, Karin. Aku hanya—"
"Salahmu itu karena kamu mandul!"
"Ma, cukup!" sentakku. Aku tak tahan dengan sikapnya yang selalu menyalahkan Karin karena tak kunjung hadirnya seorang bayi di keluarga ini.
Mama terkejut, begitu juga dengan Papa. Ini pertama kalinya aku berkata dengan nada tinggi pada orangtuaku sendiri.
"Kamu berani bentak mama demi wanita mandul ini, Malik?" Mama melotot tajam seraya berdiri. "Mama ini wanita yang melahirkanmu! Menyusui dan mendidikmu sampai bisa sukses seperti ini! Dan sekarang ... kamu berani berteriak pada mama hanya karena anak yatim piatu ini, begitu?" murkanya dengan suara melengking.
"Ma, sudah, Ma. Nanti darah tinggi Mama kambuh lagi." Papa berusaha menenangkannya.
"Mama bisa kena serangan jantung karena ulah anakmu ini, Pah! Dia lebih membela wanita mandul itu daripada mamanya sendiri!"
"Karin tidak mandul!"
Semua orang terlonjak kaget saat aku menggebrak meja dengan kuat. Tak terkecuali Karin yang sedari tadi menunduk dengan isakan lirihnya. Ayu pun langsung melepas rangkulannya dari tanganku.
"Karin tidak mandul, Ma!" tegasku sekali lagi, tapi dengan nada lebih pelan. "Kami sudah memeriksakannya ke dokter. Baik Karin atau aku, kami berdua sama-sama sehat. Hanya belum waktunya saja kami diberi kepercayaan untuk memiliki anak."
"Ya sudah. Kamu tidak perlu minta maaf padanya!" Mama menunjuk Karin yang semakin menundukkan wajah dengan bahunya yang berguncang. "Mau tidak mau, dia harus rela dimadu! Kalau tidak, kamu ceraikan saja dia!"
"Aku tidak akan pernah menceraikan Karin, Ma. Tidak akan pernah!" tegasku dengan sorot mata tajam.
"Terserah!" Mama mengibaskan tangannya. "Hey, Karin! Jangan pernah menyalahkan putraku atas apa yang terjadi sekarang. Salahkan saja nasib burukmu! Kami sudah tua! Sudah waktunya untuk menimang cucu! Mengerti kamu, huh?"
"Pah ...," mohonku dengan tatapan memelas.
Papa mengangguk, lalu membawa Mama pergi ke kamar dengan sedikit memaksanya dan meninggalkan kami bertiga di ruang keluarga ini. Tak ada suara selain isak tangis wanita yang dulu pernah kuperjuangkan untuk bisa menikahinya.
"Kamu duluan saja ke kamar," perintahku pada Ayu.
"Tidak mau!" Ayu menyandarkan punggung, melipat kedua tangan di dada dengan menopangkan satu kakinya. "Aku juga istrimu. Tidak boleh ada rahasia di antara kita bertiga, Mas. Aku mau mendengar semua pembicaraan kalian!"
"Ayu!" geramku, tapi dia tidak peduli.
Kusentak napas kasar sembari mengusap wajah, lalu menatap kembali Karin yang sedari tadi menunduk sedih. Wanita yang pernah merajai hati sebelum akhirnya sosok Ayu hadir. Cinta ini memang telah terbagi, tapi cinta untuk Karin tetap yang paling besar.
"Jadi, alasan Mas ada tugas ke luar kota itu bohong?" tanyanya terbata-bata.
"Maaf." Aku menunduk dengan segumpal rasa penyesalan.
Tiga hari yang lalu, aku sangat yakin bisa dengan mudah melewati semua ini. Namun, kenyataannya ini sangat sulit dan menyakitkan. Melihat wanita yang pernah kuperjuangkan menangis tersedu-sedu, hati ini ikut tercabik-cabik.
"Tidak apa-apa, Mas. Benar kata Mama, aku mandul. Aku ... aku tidak sempurna."
"Karin!" tegurku karena tak suka mendengarnya merendahkan diri sendiri.
"Ayolah, Mas! Sampai kapan mau basa-basi seperti ini terus, sih? Aku lelah. Ayo kita ke kamar!" rengek Ayu manja sembari menarik-narik lenganku.
"Sebentar, Ayu. Aku masih bicara dengan Karin."
"Tapi, Mas ... aku mau tidur. Sudah jam sebelas malam, lho."
"Ya sudah. Kamu tinggal ke kamar lebih dulu. Apa susahnya, sih?" kataku kesal seraya menatapnya dengan kening berkerut dalam.
"Aku tidak mau! Kita ini masih pengantin baru, Mas. Aku tidak mau tidur kalau tidak sama Mas!" tolak Ayu sembari melirik tajam pada Karin.
"Jangan bersikap kekanak-kanakan, Ayu! Jangan membuatku tambah pusing!"
"Pergilah, Mas."
Aku menoleh saat mendengar Karin kembali bersuara. Dia tersenyum, tapi air matanya terus berlomba membasahi pipi tirusnya. Dulu, pipi itu sedikit chubby. Namun, satu bulan terakhir ini Karin terlihat lebih kurus.
"Karin ...."
"Tidak apa-apa. Pergilah, Mas. Nikmati masa-masa indah pengantin baru kalian berdua. Aku ... baik-baik saja," ucapnya sembari menghapus jejak-jejak air mata.
"Ayolah, Mas! Dia saja tidak keberatan. Tunggu apa lagi coba? Ayo!" Ayu yang sudah berdiri langsung menarikku dengan paksa.
Terpaksa aku mengikuti kemauan Ayu. Berjalan perlahan meninggalkan Karin yang menatapku masih dengan senyuman penuh luka.
Air matanya tak bisa menyembunyikan perasaan Karin saat ini. Hatinya hancur berkeping-keping dan akulah tersangkanya. Satu tanganku ditarik Ayu, sedngkan satu lagi menggeret koper besar.
Karin ....
Sesaat sebelum pintu kamar tamu ditutup sempurna, aku kembali melihat ke ruang keluarga. Karin masih duduk termenung di sana. Sendirian. Setitik bulir bening lolos dari sudut mata ini, ketika kulihat dia menikmati kue tart itu sendirian.
Hampir aja aku kembali berlari ke sana kalau saja Ayu tidak menarikku, menutup pintu dengan kasar, lalu menguncinya.
"Ini masih malam pengantin kita, Mas. Waktunya untuk bersenang-senang denganku, bukan dengan istri pertamamu."
★★★
ชีวิตคู่ของไป๋อวี้และเฉินอี้หานหลังจากที่ปรับความเข้าใจกันอย่างแท้จริง บัดนี้ก็ผ่านมาเจ็ดปีแล้ว บุตรชายคนแรกของพวกเขาคลอดออกมาเมื่อสองปีแรกหลังร่วมหอ เพราะเฉินอี้หานนั้นอยากใช้ชีวิตคู่เพียงสองคนให้นานสักหน่อย แต่ที่ใช้เวลาเพียงสองปีเพราะเฝิงไทเฮาขอร้อง เนื่องจากทั้งสองแต่งงานหากนับแต่แรกเริ่มก็นานถึงแปดปีแล้วไม่มีบุตร ขุนนางย่อมมองว่าไป๋อวี้บกพร่อง“เหตุใดเอาแต่โทษสตรี เหตุใดไม่โทษว่าบุรุษเช่นข้าไม่เอาไหน ไร้ความสามารถทำให้อิงเจาตั้งครรภ์มีบุตรได้ ช่างพูดจาเอาแต่ได้ฝ่ายเดียว”นี่คือคำที่เฉินอี้หานถึงกับเอาไปประกาศในท้องพระโรงหลังพวกขุนนางผู้เฒ่าเต่าล้าหลังเอาแต่กราบทูลต่อฝ่าบาทให้ชินอ๋องรับพระชายารอง แต่ถึงจะด่ากราดไปเช่นนั้น สุดท้ายเพราะทนให้ใครมาแอบนินทาลับหลังว่าไป๋อวี้เป็นสตรีไม่เอาไหน ตั้งครรภ์ไม่ได้ ในปีนั้นเฉินอี้หานก็ยินยอมให้พระชายารักหยุดดื่มยาห้ามครรภ์ จนอีกเก้าเดือนต่อมาตำหนักชินอ๋องก็ได้ซื่อจื่อน้อยมาหนึ่งพระองค์“เฉินไป๋อี้”คือนามของบุตรชายคนแรกของทั้งสอง ซึ่งนามนี้ก็เป็นเฉินอี้หานที่ตั้งใจเลือก เพราะเขาบอกกับไป๋อวี้ว่าลูกคนแรกและเป็นชายก็ใช้แซ่ของบิดาแล้วตามด้วยนามของม
กลิ่นหอมหวานจากเรือนกายของพระชายารักช่างหวานล้ำเลิศ เฉินอี้หานหาได้กล่าวแอบอ้างเกินจริง เขาห่อลิ้นจ้วงแทงเข้าไปในร่องรักของไป๋อวี้ถี่ระรัว ปลายลิ้นแกร่งนั้นร้ายกาจเหลือเกิน เขาวนเวียนดื่มกินน้ำหวานอย่างมูมมามจนบังเกิดเสียงลามก ก่อนจะดึงปลายลิ้นขึ้นมาบดขยี้ติ่งเนื้อสีหวานด้านบน ส่งปลายนิ้วกลางลงไปทักทายเบิกทางเอาไว้เพื่อเตรียมให้นางนั้นพร้อมจะรองรับตัวตนที่ยิ่งใหญ่กว่านิ้วหลายเท่า จากหนึ่งเป็นสอง จ้วงแทงจากเนิบช้าเพิ่มเป็นเร็วรี่“อื้อ ! พี่ฮ่าวอิงเจาไม่ไหว เสียวไม่ไหวแล้วจริง ๆ อ้า !!!”ยิ่งได้ยินคนตัวน้อยกรีดร้องเช่นนั้นเฉินอี้หานก็ยิ่งเร่งทั้งปลายนิ้วและปลายลิ้น ตั้งใจส่งพระชายารักไปท่องเที่ยวยังดินแดนสุขาวดีก่อนเป็นครั้งแรก ไม่นานไป๋อวี้ก็กรีดร้องสะบัดหน้าส่ายไปมาอยู่บนที่นอน ร่างกายเล็กเกร็งกระตุก ปลดปล่อยน้ำหวานออกมามากมาย คนตัวโตด้านบนรีบปลดอาภรณ์ของตนเองว่องไวแล้วจับลำเอ็นที่แข็งขันจนแทบระเบิดขยับสาวอยู่ไม่กี่ครั้งก็กดส่วนปลายหัวหยักลงไปบนร่องรักที่มีน้ำหวานเอ่อล้นอยู่ เขาขยับถูไถลากขึ้นลงเป็นจังหวะ ไป๋อวี้ที่เพิ่งจะเสร็จสมกลับยังถูกแท่งรักร้อนบดขยี้ถูไถก็ไปถึงจุดหมายซ้ำ ร่างเ
พอคิดได้ดังนั้นเฉินอี้หานก็ลุกพรวดพราด ติดตามพระชายาของตนเองเข้าไปภายในห้องชั้นในทันที แล้วภาพที่ไป๋อวี้ก้าวออกมาจากหลังฉากเปลี่ยนอาภรณ์ด้วยชุดคลุมตัวยาวสีแดงตลอดร่างก็ทำเอาเฉินอี้หานต้องกลืนน้ำลายลงคอหลายอึกร่างอรชรชะงักเล็กน้อย แล้วนางก็ก้าวตรงไปยังเตียงนอน นางนั่งลงจากนั้นจึงนำพัดเล่มหนึ่งที่คุ้นตานักเพราะมันคือพัดในวันแต่งงานของพวกเขายกขึ้นมาปิดบังใบหน้า เป็นการบอกด้วยภาษากายว่านางต้องการสิ่งใดไป๋อวี้เองก็เตรียมตัวจะชดเชยค่ำคืนเข้าหอมาสักพักหนึ่งแล้ว เพียงแต่ช่วงนี้นางเองก็มีงานรัดตัว ไหนจะช่วยงานแต่งงานของเหมี่ยวจ้วงและอู๋เสียน ไหนจะเป็นเรื่องที่นางเตรียมจะสอบเข้าไปเป็นท่านอาจารย์ในสำนักศึกษาแพทย์หลวงอีก เพราะคิดว่าการได้ออกไปท่องเที่ยวรักษาผู้คนที่เจียงหนานมากพอจะนำมาเป็นประสบการณ์สั่งสอนศิษย์มากมาย ส่งต่อความรู้ให้คนที่มีความฝันเช่นนางในอดีต นี่ก็เป็นเป้าหมายใหม่ในชีวิตของนางเช่นกัน แค่นางตั้งใจรอให้สอบผ่านด้วยความสามารถของตนเองแล้วจึงค่อยบอกกับเฉินอี้หานเท่านั้นเฉินอี้หานก้าวมาหยุดยืนอยู่ตรงหน้าของไป๋อวี้ จากนั้นจึงหยิบพัดของนางออกไปวางเอาไว้ที่โต๊ะข้างเตียง แล้วจึงฉุดดึงร่
“ท่านดูไม่เคยมีความสุขอย่างจริงใจสักครั้ง มีสิ่งใดท่านก็พูดมาเถอะ หรือว่าท่านไม่พอใจตรงไหนในนิสัยกับการกระทำของข้า หากมันมากเกินไปจนรับไม่ไหวท่านก็บอกข้าได้ ส่วนข้าบัดนี้ไม่ชอบเลยที่ท่านชอบคิดเล็กคิดน้อย มีอะไรก็เก็บไปคิดเอง กังวลเองอยู่คนเดียว”ไป๋อวี้เลือกจะเปิดใจพูดทุกสิ่งออกไปก่อน ชีวิตคู่ไม่เคยสมบูรณ์ พี่สาวกับมารดาและเฝิงไทเฮามักสั่งสอนและแนะนำนางเช่นนี้ คนสองคนเติบโตต่างกัน ถูกเลี้ยงดูและเอาใจต่างกัน โดยเฉพาะนางและเฉินอี้หานนั้นล้วนเป็นลูกและน้องเล็กด้วยกันทั้งคู่ ทุกคนในครอบครัวทั้งรักและตามใจ พอมาร่วมชีวิตคู่จึงต้องค่อย ๆ ปรับและเรียนรู้กันไป ยากจะสงบสุขแค่อยู่ด้วยกันเดือนสองเดือนและคิดแล้วไป๋อวี้ก็เห็นจริง หกปีสำหรับคู่ของนางและเฉินอี้หานก็นับว่ายังไม่ค่อยเข้าใจตรงกันนัก จึงมีสภาพดังที่เห็น ขาดบ้างเกินบ้าง ทะเลาะถกเถียงกันไปบ้าง แต่สุดท้ายเมื่ออารมณ์สงบจึงค่อยมองย้อนกลับไป แล้วเห็นจุดที่ต่างก็ผิดด้วยกันทั้งคู่ สำหรับนาง ขณะนี้ไม่ว่านางหรือเฉินอี้หานล้วนไม่มีใครถูกเต็มสิบหรือผิดไปทั้งหมด ต่างมีผิดบ้างและถูกบ้าง หากเทียบกับสีแล้วนางกับสวามีคงเป็นสีเทา ไม่ขาวหรือดำสนิท ดังนั้น





