LOGINหลีหนิงหนิงได้ทะลุมิติเข้ามาในนิยายที่กำลังแปลก่อนจะได้รู้ว่าเธอได้รับบทตัวประกอบที่คู่กับพระรองตัวร้าย....แต่ที่พระรองผู้นี้ร้ายก็เป็นเพราะแม่นางเอกดอกบัวขาว หลีหนิงหนิงจึงต้องช่วยพระรองผู้น่าสงสาร
View More"Telan makanan itu! Cepat, telan!"
Dengan mata melotot penuh amarah, seorang wanita paruh baya mencengkeram dagu menantunya, memaksa mulut itu terbuka. Tangannya yang lain menyumpalkan makanan basi ke dalam mulut perempuan muda yang terduduk lemas di lantai. "Uhuk! Uhuk! Makanan ini... sudah basi, Bu..." Amora tersedak, air matanya meleleh deras, membasahi pipi pucatnya. "Memangnya kenapa kalau basi?" desis ibu mertua itu tajam. "Masih makanan, kan? Apa kamu pikir pantas dapat hidangan mewah di rumah ini?!" Amora menggeleng lemah. "Tapi... ini sudah beracun, Bu. Mau Ibu racuni aku?" Senyum sinis melengkung di bibir wanita tua berambut konde itu. "Racun? Huh! Kamu itu gembel! Dasar perempuan tak berguna!" tangannya melayang, menoyor kepala Amora dengan kasar. "Kamu harus tahu diri! Hidupmu saja sudah untung bisa numpang di rumah anakku!" "Aku menantu Ibu," lirih Amora, mencoba bertahan dengan sisa harga dirinya. "Menantu? Pantas? Dari mana? Anak siapa kamu?! Asal-usulmu saja nggak jelas! Pantas saja hidup anakku malah jatuh miskin setelah nikah sama kamu!" dengusnya penuh jijik. "Pemilik toko meubel seharusnya dapat perempuan terhormat, bukan sampah sepertimu!" Tiba-tiba, rambut Amora ditarik paksa. Tubuhnya terhuyung, tapi ia tak melawan. Ia menahan semuanya. Luka batin, sakit fisik, dan harga diri yang diinjak-injak, semua ia telan demi janji suci kepada lelaki yang amat dicintainya. "Apapun yang terjadi, jangan pernah melawan, ya Sayang. Kalau kamu melawan, Ibu pasti makin jadi. Aku nggak tega lihat kamu disakiti, tapi percayalah... aku akan selalu setia sama kamu. Kumohon, demi aku, bersabarlah." "Aku janji, Mas. Asal Mas tetap setia sama aku, aku akan taat. Aku nggak akan pernah melawan Ibu." Cinta membuatnya rela menjadi tahanan di rumah sendiri. Bahkan kakak iparnya pun ikut menghina dan menyiksanya. Tapi Amora tetap diam, tetap pasrah demi Enzo, suaminya, lelaki yang telah membuatnya mencintai hingga separuh nyawa. "Hei! Jangan malah melamun!" Bentakan nyaring sang ibu mertua membuyarkan lamunannya. "Cepat habiskan makanan itu!" Dengan tangan gemetar, Amora menyendokkan makanan basi itu, memaksakan masuk ke mulutnya yang sudah penuh air mata. Suara tawa meledak dari bibir sang ibu mertua. Gelak puas yang terdengar lebih mengerikan dari teriakan apapun. "Habiskan! Satu butir nasi pun jangan sampai tersisa! Aku mau lihat kamu melata seperti anjing kampung!" Amora menangis tanpa suara, tanpa perlawanan. Yang ada hanya luka, perih, dan kepedihan yang membungkam. Namun tubuhnya tak mampu lagi bertahan. Dengan napas tersengal, ia bangkit, berlari sempoyongan menuju kamar mandi. "Hoek!" Semua makanan itu keluar bersama kepahitan yang telah ia telan sejak lama. Belum sempat menenangkan diri, terdengar lagi suara langkah keras mendekat. Sang ibu mertua mendobrak masuk. "Kurang ajar! Sudah dikasih makan malah dimuntahin! Dasar perempuan tak tahu diuntung!" Dorongan keras mendarat di punggung Amora. Tubuh lemah itu terjungkal, kepalanya menghantam bak air. Bukkk! Seketika dunia terasa berputar. Suara, warna, semuanya berbaur menjadi gelap... *** "Amora... Sayang... kamu dengar suara Mas, kan?" Suara lembut namun cemas menyelinap masuk di antara kegelapan. Samar-samar, Amora membuka mata. Wajah Enzo, suaminya, tampak buram di pandangan matanya. "Kamu kenapa bisa jatuh di kamar mandi, Sayang?" lirih Enzo, menatap Amora penuh tanya sekaligus khawatir. Jemarinya menyapu lembut rambut istrinya yang kusut berantakan. "A-aku..." Amora tercekat. Tenggorokannya terasa pahit. Dan untuk pertama kalinya ada kilatan keraguan dalam matanya. "Istrimu memang bebal, Enzo! Sudah Ibu bilang, jangan bersihkan kamar mandi pembantu. Tapi tetap saja dia ngeyel! Dasar perempuan keras kepala, lihat sendiri akibatnya sekarang! Malah bikin repot semua orang!" serapah Bu Ratna, penuh nada menyalahkan. Amora ingin membela diri. Ingin berteriak bahwa semua ini bukan salahnya. Tapi lidahnya kelu. Bahkan untuk sekedar bernafas saja terasa berat. Perutnya melilit, seluruh tubuhnya gemetar tak berdaya. Sedari pagi bahkan sedari kemarin ia tak diberi makan layak. Hanya nasi basi siang tadi yang dipaksa masuk ke kerongkongannya. Jika ia tak salah ingat, matahari kini hampir tenggelam, hampir maghrib waktunya berbuka puasa, walau ia tak berniat puasa, tetapi hidupnya dipaksa menahan lapar setiap hari. “La-par…” lirihnya nyaris tak terdengar. Enzo yang sedari tadi menatapnya penuh kekhawatiran segera membungkuk. “Lapar? Kamu lapar, Sayang?” Matanya yang biasanya penuh kepercayaan diri kini tampak rapuh. Amora mengangguk lemah. “Bu… tolong ambilkan Amora makan. Kasihan dia,” pinta Enzo tanpa sadar sedikit meninggikan suara, mulai muak dengan sikap ibunya. Bu Ratna mendengus. “Iya, iya! Bentar!” Dengan langkah berat penuh rasa malas, wanita itu berjalan menuju dapur. Tak lupa ia mengomel sendiri. “Dasar perempuan pembawa sial! Hidup di rumah orang kok repotnya minta ampun!” Ia mengambil nasi putih dingin dalam magic jar yang hampir kosong. Dua potong tempe goreng yang sudah layu ia letakkan asal-asalan di atas piring. Segelas air putih ia siapkan tanpa niat tulus sedikit pun. “Ini nasinya,” katanya sinis, kembali ke kamar. Enzo menatap piring itu. Hanya nasi dan tempe. “Lho, kok cuma tempe doang, Bu? Lauk yang lain?” “Ya adanya cuma itu. Lauk yang lain udah dimakan kakakmu. Mau protes? Mau masak sendiri?!” Enzo hanya terdiam. Tak ada gunanya berdebat. Ia memilih mendekati istrinya lagi. “Nggak apa-apa, ya Sayang. Makan seadanya dulu. Aku tahu kamu nggak keberatan, kan?” Amora ingin tertawa getir. Ingin berteriak, ‘AKU MUAK MAKAN TEMPE!’ Tapi apa gunanya? Enzo akan merasa bersalah, dan ia tak sanggup melihat itu. Lagi-lagi, Amora mengorbankan perasaannya demi menjaga harga diri suami yang bahkan tak mampu melindunginya. “Iya, Mas,” jawabnya dengan senyum palsu yang hampir tak mampu ia lukiskan. Amora dulu perempuan yang cantik. Kulit putihnya bersih, rambutnya hitam lebat, alisnya tebal alami. Tubuhnya proporsional, ideal. Tapi lihatlah dia sekarang... tubuh tinggal tulang berbalut kulit kusam. Pipi tirus, mata cekung. Amora perlahan berubah menjadi bayangan dirinya sendiri. “Bu, istirahat aja. Biar aku yang temani Amora makan,” ucap Enzo lagi, mencoba bersikap baik. “Huh! Dasar anak bodoh! Terserah kalianlah! Ibu mau tidur, jangan ganggu!” sahut Bu Ratna ketus, berbalik menuju kamarnya. “Istirahat yang cukup, Bu!” balas Enzo, memaksakan senyum. Begitu pintu kamar tertutup, Enzo kembali menatap istrinya dengan mata sendu. “Maafin Ibu, ya Sayang. Aku tahu... semua ini gara-gara dia.” Amora memalingkan wajah. Bukan karena marah, tapi karena lelah. Hati dan tubuhnya sudah habis. “Sayang... jangan nyerah, ya! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Bertahanlah sedikit lagi. Percayalah, suatu saat Ibu akan luluh melihat kesabaranmu.” “Berapa lama lagi, Mas?” lirih Amora, matanya berkaca-kaca. “Aku capek. Aku... aku nggak kuat lagi. Ibu nggak pernah akan luluh, Mas. Yang ada, aku mati di rumah ini!” Enzo menggenggam tangannya erat. “Sabar, Sayang! Sabar sedikit lagi!” Amora menggeleng pelan, tangisnya hampir pecah. “Aku nggak butuh sabar lagi, Mas. Aku butuh hidup! Aku butuh harga diriku kembali! Aku butuh kamu... untuk benar-benar ada di pihakku, bukan cuma berdiri di antara aku dan Ibu!” Enzo terdiam. Ada luka yang dalam di matanya. Tapi tetap saja... ia terlalu lemah. “Aku mau kita pindah, Mas. Rumah kontrakan kecil pun nggak apa-apa. Aku rela. Asal kita lepas dari neraka ini.” “Maaf... uang Mas belum cukup buat kontrak rumah. Semua uang keuntungan bulan ini sudah Mas kasih ke Ibu... buat bayar cicilan toko.” Amora menatap suaminya dengan luka yang tak bisa ia ucapkan. “Mas... aku nggak kuat lagi...” “Jangan marah... jangan kecewa sama aku, Amora. Aku nggak bisa kalau kamu benci aku...” Air mata Amora jatuh tanpa suara. Di satu sisi, ia ingin marah. Tapi Enzo... adalah satu-satunya alasan ia masih bernafas sampai detik ini. “Aku nggak marah, Mas...” Amora berbohong, seperti biasanya. Demi Enzo. Demi cinta yang entah masih berharga atau sudah berubah jadi racun perlahan membunuhnya. "Mas... aku mau tidur sebentar, ya. Badanku rasanya remuk." "Tentu, Sayang. Istirahatlah," jawab Enzo, tersenyum lembut, seolah-olah pria paling penyayang di dunia. Amora perlahan memejamkan mata, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam lelah yang menumpuk. Enzo pun ikut merebahkan diri di sampingnya, memeluknya dari belakang dengan tangan hangat yang terasa seperti belenggu. Tak sampai setengah jam, dering ponsel memecah keheningan kamar. Enzo sontak terbangun. Dengan gerakan cepat, dia meraih ponsel di atas nakas, matanya sekilas melirik Amora yang masih membelakangi dirinya. "Amora?" panggilnya pelan, pura-pura memastikan. Ditepuk-tepuknya pelan bahu sang istri. Tak ada respons. "Bagus," bisiknya puas. Dengan cekatan, Enzo mengangkat panggilan. "Halo, Sayang? Uangnya udah habis? Yaudah... nanti Mas transfer, lima juta cukup? Beli lingerie yang paling seksi, ya. Besok Mas kangen banget sama kamu." DEG! Amora yang sejak tadi hanya memejamkan mata pura-pura tidur, mendengar setiap kata dengan jelas. Setiap ucapan Enzo menampar telinganya seperti cambuk. Tubuhnya membeku, tapi jemari kurusnya mulai mencengkram selimut erat-erat, nyaris robek. ‘Sayang? Lima juta? Lingerie? Untuk siapa, Mas?’วสันต์ฤดูพานพบมาอีกครา สายลมเย็นโชยมาพัดพากลิ่นหอมของเหล่าดอกไม้พรรณาส่งกลิ่นหอมฟุ้งไปทั่วจวน ท้องฟ้าปลอดโปร่งแสงแดดส่องจ้ากระทบลำธารจำลองจนน้ำระยิบระยับชวนให้งดงามในอ้อมแขนของซ่งเสวี่ยนโอบอุ้มห่อผ้าสีแดงไว้แนบอก เพียงพริบตาก็ผ่านพ้นครบร้อยวันแล้วเมื่อหลายเดือนก่อนหลีหนิงหนิงผู้เป็นภรรยารักทั้งครรภ์อีกหน เขาคาดไว้ว่างอย่างไรก็ต้องเป็นบุตรสาวอย่างแน่นอนและทันทีที่หมอหญิงชราโอบอุ้มห่อผ้าออกมานั้นพลันบอกกล่าวว่าได้คุณหนูผู้หนึ่ง เขาในตอนนั้นมีความสุขสมดั่งใจหวังแม้ทารกจะตัวแดงผิวเหี่ยวย่นแต่ซ่งเสวี่ยนไม่เคยวางมือโอบอุ้มบุตรสาวไว้ตลอดช่างต่างจากบุตรชายคนแรกเหลือเกินอาจเป็นเพราะเขาเป็นบิดาอีกคนแล้ว“เหตุใดท่านไม่เคยอุ้มข้าบ้าง” ซ่งเหว่ยหยางเงยหน้าทักทวงบิดาแฝงความน้อยใจ ทว่าแท้จริงแล้วเขาเพียงแค่อยากโอบอุ้มน้องสาวบ้างซ่งเสวี่ยนหลุมตาต่ำมองบุตรชายที่บัดนี้จวนจะเจ็ดขวบแล้วแต่ยังสูงเพียงแค่ช่วงระหว่างขาเท่านั้น“หากเจ้าโตเมื่อไหร่ค่อยมาอุ้มบุตรสาวข้า”!!ซ่งเหว่ยฟังแล้วขมวดคิ้วงุนงงไม่เข้าใจ “สัญญากับข้า!”ในทุกปีล้วนมีเหตุการณ์พลิกผันเสมอและการเป็นตัวประกอบที่กลายเป็นมารดาทั้งยังมีสามีเ
ตอนแรกที่ซ่งเสวี่ยนพบเจอบุรุษที่คล้ายคลึงตนเองก็พลันไม่ชอบใจอยู่แล้ว ยิ่งเป็นเด็กทารกที่คล้ายตามติดภรรยาของเขาอยู่ไม่ห่างเขายิ่งมีสีหน้าไม่สู้ดีทุกครั้งพอลอบสังเกตสีหน้าของบุรุษข้างกลายที่บึ้งตึงแล้ว หลีหนิงหนิงพลันหัวเราะชอบใจ“บอกแล้วอย่างไรบุตรในครรภ์ข้าต้องเป็นเด็กชาย”ในความคิดของหลีหนิงหนิงบุตรชายคนแรกสมควรเป็นผู้ชายหากถามหาเหตุผลนั้นไม่มี นางเพียงแค่อยากชื่อชมซ่งเสวี่ยนในวัยเด็กจนเติบโตเท่านั้นคำพูดหยอกเย้าของนางเช่นนี้ ซ่งเสวี่ยนไม่ชอบเลยยิ่งพอเวลาพอไปนานเข้าเด็กทารกน่าเกียจนั้นก็เติบโตจึ้นแต่ไฉนยังต้องคล้ายตามติดภรรยาข้าทุกฝีก้าว“พรุ่งนี้ให้เขาไปเรียนหนังสือได้แล้ว” ซ่งเสวี่ยนเอ่ย นัยน์ดุดันจ้องมางเด็กชายตรงหน้าด้วยความจริงจังเจ้าเด็กนี้สมควรออกไปพบเจอผู้นเสียบ้างมิใช่วัน ๆ อยู่แต่กลับภรรยาเขาไม่ห่าง“ท่านพ่อ!” น้ำเสียงของเด็กน้อยร้องตกใจ “ข้าไม่ไป!”หลีหนิงหนิงหรี่ตามองอย่างขุนเคือง “เขาพึงจะสี่ขวบเท่านั้นอาเสวี่ยน”ไฉนเลยนางจะไม่รู้เหตุผลของซ่งเสวี่ยนคราแรกที่ซ่งเหว่ยหยางถือกำเนิดออกมาเป็นทารกตัวแรกนั้นซ่งเสวี่ยนแทบจะไม่เข้าใจหรือโอบอุ้ม เพียงแค่มองเห็นเห็นผิวหนังที่เห
หากไม่ได้ต้องอยู่ร่วมเรียงเคียงหมอนกันทุกวันเช่นนี้ จื่อรุ่ยหยางก็ยังคงไม่กระจ่างแจ้งว่าแท้จริงแล้วหลีหลินว่านมีนิสัยเช่นไรตั้งแต่ฤดูใบไม้ผลิปีปีที่แล้วจนกระทั่งวนเวียนพบใหม่ อีกครา ความสัมพันธ์ระหว่างเขากับหลีหลินว่านพังพินาศตั้งแต่เริ่มต้นจนถึงตอนนี้จื่อรุ่ยหยางทุกข์ใจไม่รู้จะหันหน้าไม่พึงผู้ใดได้“ข้าเซ็นหนังสือหย่าได้แล้ว”“บอกแล้วอย่างไรข้าไม่หย่า!”พอได้ยินประโยคนี้อีกครั้ง หลีหลินว่านพลันโมโหไม่มีที่สิ้นสุด “เพื่อให้ได้แต่งงานกับข้าที่ผ่านมาท่านล้วนกีดกันบุรุษอื่นออกไป…” นางยกยิ้ม “พอได้แล้วจึงอยากจะทิ้งข้าหรือ!”เรื่องไปกันใหญ่แล้ว จื่อรุ่ยหยางขมวดคิ้ว “ไม่ใช่หลินว่าน มันเพราะที่ผ่านมาเจ้าไม่เคยดีต่อข้าเลย”ในในยามนี้เข้าใจแล้วมีบุพเพ…มีวาสนา..แต่ไร้รัก“เหอะ!” หลีหลินว่านยืนกอดอกมองด้วยความสายตาแข็งกร้าว “ท่านไม่มีหากหนีไปจากข้าพ้น!” นางกระแทกเสียงหากจื่อรุ่ยหยางยังไม่ตายก็ไม่มีทางแยกจากนางไปได้ หลีหลินว่านไม่ยอมตกเป็นขี้ปากของพวกคนนางรังเกียจเหล่า นั่นแน่ ชีวิตที่ผ่านมาของนางล้วนเป็นไปดั่งใจหวังแล้วเหตุใดครั้งรี้มันถึงกลับเป็นไปไม่ได้กันซ่งเสวี่ยน!พอนึกถึงบุรุษชื่อของบ
สำหรับซ่งเสวี่ยนแล้วพอเข้าสู่ฤดูเหมันต์เขามักจะปลีกตัวออกไปหลบซ้อนตัวอยู่เพียงผู้เดียวบรรยากาศที่หนาวเย็นจนสั่นสะท้าน หิมะที่โปรยปรายตลอดเวลาโดยไม่มีทีท่าจะหยุดจนทั่วบริเวณโพลนขาว เพียงแวบหนึ่งซ่งเสวี่ยนพลันเห็นเหตุการณ์ในตอนที่ตนเองสามขวบอีกครั้ง“ข้าเกลียดฤดูหนาว” น้ำเสียงทุ้มสถบออกไปหลีหนิงหนิงเอี่ยงใบหน้ามองบุรุษข้างกาย ใบหน้าที่โผล่พ้นออกมานอกเสื้ออุ่นที่ทำจากขนสัตว์และแก้มนวลที่ขึ้นสีระเรื่อทำให้มองดูน่าเอ็นดูไม่น้อย“ข้าอยากโอบกอดอาเสวี่ยนคลายหนาว พอฤดูใบไม้ผลิข้าอยากดูดอกไม้บานพร้อมกัน” ดวงตาเมล็ดซิ่งวูบไหว“แต่ข้าชอบ” ก่อนที่สายตาจะปรายไปมองหิมะที่ยังคงตกอยู่นอกหน้าต่างมุมปากหนาพลันยกยิ้ม “นับวันยิ่งเกียจคร้าน”ความจริงแล้วนางไม่ได้ชมชอบความหนาวสักนิด เพียงแต่พออากาศหนาวเหน็บเช่นนี้ที่ไม่ต้องทำอันใด นอกจากนั่งขดตัวอยู่ใต้ผ้านวมหรืออาภรณ์ขนสักอุ่น ๆ สักผืน“ให้ข้าปิดโรงเตี๊ยมดีหรือไม่” ซ่งเสวี่ยนเสนอ ใบหน้าหล่อเหล่าเต็มไปด้วยความยียวนทั้งสิ้น “พอเห็นเจ้าเป็นเช่นนี้ข้าว่าพวกเราอยู่จวนตลอดไปคงไม่น่าเบื่อนัก”“ไม่” หลีหนิงหนิงปฏิเสธ “ ท่านจะเอาเงินที่มาให้ข้าใช้”นางยอมไม่ได้เ
หลีหนิงหนิงชะโชกหน้ามองออกไปนอกหน้าต่างไม่เงาของผู้ใดทั้งสิ้นซ้ำทั่วทั้งจวนมีเพียงแค่ห้องนอนเท่านั้นที่จุดตะเกียงแม้เวลาจะล่วงเลยเข้าสู่ปลายยามไฮ่ (21.00-23.00) แต่ทั้งนางและซ่งเสวี่ยนต่างไม่มีผู้ใดข่มตานอนหลับได้ หลีหนิงหนิงกับมานั่งเหยียดหลังพิงหัวเตียงดังเดิม สายตาทอดมองบุรุษที่นั่งอยู่ปลายเตีย
สำหรับหลีหนิงหนิงแล้วนางต้องการคำอธิบายมากที่สุด เรื่องของหลีหลินว่านยังไม่ทันผ่านพ้นข้ามวัน พระรองตัวร้ายผู้นี้กับมีสตรีมาเกาะติดอีกแล้วอย่างงั้นหรือ“พบกันที่ใด” หลีหนิงหนิงถามเสียงแข็งไตร่สวน“โรงเตี๊ยมเจ้าค่ะ” นางตอบออกมาชัดเจนโดนไร้ความกังวลจากนั้นจึงปรายสายตามองซ่งเสวี่ยนด้วยความไม่เข้าใจโรง
ซ่งเสวี่ยนไม่เคยเฉยชาต่อนาง หลีหลินว่านไม่พอใจถึงที่สุด นางปรี่ตัวเข้าไปจับซ่งเสวี่ยนให้หันมาสนใจนาง “ไม่สนใจข้าแล้วหรือ” น้ำเสียงสั่นเครือแพบพร่าพร้อมกับนัยน์ตาคู่สวยสั่นระริกที่เริ่มแดงก่ำ สุดท้ายแล้วบุรุษตรงหน้าย่อมแพ้หยาดน้ำตาของนาง ใครจะคิดว่าหลินว่านจะบีบน้ำตาเสแสร้งออกมา ซ่งเสวี่ยนไม่รู
หลีหนิงหนิงใช้เวลาอยู่นานหลายวันกว่าจะทำใจยอมรับได้ว่าจวนหลังนี้ไม่มีผีอย่างที่คิดไว้ถึงแม้นั่นไม่ว่าซ่งเสวี่ยนไปที่ใด ย่อมมักจะเห็นนางติดอยู่ข้างกายไปด้วยทุกที่ “เจ้าจะเลิกทำตัววุ่นวายเมื่อไหร่หลีหนิงหนิง” ซ่งเสวี่ยนเอ่ยแฝงความรำคาญใจเล็กน้อย ว่ากันตามตรงแล้วนางสมควรจะหวาดกลัวเขามากกว่า ใบหน้












reviews