Novels
Short Stories

Genres

Realistis×
All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Romansa Menggoda
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

27
All
Psikopat
Mandiri
Pelakor
Munafik
Wanita Kuat
Mafia
Istri Muda
Cinta Pertama
Kejam
Teman Masa Kecil
Dokter
Cinta Sejati
Pengasuh
Bestie
Pengganti
Guru
Bucin
Menantu
Sekretaris
Identitas Tersembunyi
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Teman Sekamar
Show more

Plot & Setting

27
Hubungan Keluarga×
All
Menggoda
Dewasa 18+
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Perundungan
Kehamilan
Penebusan
Sistem
Nikah Kontrak
One Night Stand
Cinta Lama Bersemi Kembali
Kekuatan Super
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Petualangan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Pusat Perhatian
Show more

Themes

15
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Semangat
Multi POV
Show more

Hubungan Keluarga Realistis Short Stories & Novels

Discover a collection of engaging Hubungan Keluarga Realistis short stories with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Sebelum Hari Raya, Keluargaku Menjahiliku Habis-habisan - Realistis novels & stories
Junye
Sebelum jam pulang kerja di Hari Raya, adikku mengirimkan pemberitahuan pindah rumah di grup keluarga. Setelah aku mengikuti alamat itu dan berganti bus lima kali, yang ada di depanku hanya pegunungan dan hutan belantara. Di telepon, adikku berbicara dengan nada yang sangat puas. "Berhasil! Ngerjain dia, sukses! Bus terakhir sudah jalan, lihat saja kamu mau gimana!" Aku membatu di tempat, sementara orang tuaku tertawa terbahak-bahak. "Kata-kata begitu saja, dia percaya. Nurun dari siapa sifat bodohnya itu?" "Kami mau makan malam keluarga. Kamu pulang sendiri, jalan kaki saja." Setelah itu, ayah ibuku malah berdebat sifatku lebih mirip siapa di telepon. Saat merasa putus asa, aku menggunakan sisa baterai terakhir ponselku untuk menelepon pacarku. Saat telepon terhubung, suara latar yang familier terdengar lagi. Tawa pacarku terdengar santai, diiringi nada ejekan dia berkata, "Vinka, tadi Tante sama Paman sudah bilang, kamu pulang sendiri saja." "Ini ‘kan bukan pertama kalinya kamu dikerjain, jangan baper!" Telepon pun dimatikan dengan kejam. Kalau dulu, aku pasti akan menangis sambil menelepon balik, memohon agar mereka menjemputku. Tapi kali ini, melihat ribuan lampu rumah di kejauhan, aku mendadak merasa lelah. Adikku suka permainan prank saat Hari Raya, dan keluargaku ikut bermain dengannya. Dua tahun lalu, dia memasukkan bulu buah rambutan ke dalam gelasku hingga asmaku kumat. Tahun lalu, dia mengganti sampoku dengan krim pembersih bulu, hingga aku gagal wawancara kerja. Tahun ini ... keluargaku jelas-jelas tahu kalau aku takut gelap. Tapi mereka malah bekerja sama membohongiku, hingga aku sampai ke pinggiran kota. Sementara mereka di meja makan, bertaruh berapa menit lagi aku akan memohon mereka. Aku tidak menangis atau mengamuk. Di dalam kegelapan, aku melangkah menuju arah yang berlawanan dari rumah. Permainan ini, aku nyatakan selesai secara sepihak.
Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf - Realistis novels & stories
Lucky Cat
Pada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri. Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati." Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku. Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya. "Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar." "Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?" Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku dengan penuh jijik. "Ah, dia memang terlalu bodoh. Padahal kita tinggal di rumah sebelah, tapi dia sama sekali nggak sadar." Rupanya alasan ibu melarangku masuk ke kamar itu bukan karena khawatir aku akan bersedih jika melihatnya, melainkan karena kamar tersebut terhubung dengan rumah di sebelah. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan sebulan sebelum kematianku, yang kupikirkan masih bagaimana caranya berziarah ke makam mereka.
Demi Selingkuhan, Kakak Rela Mengorbankan Kami - Realistis novels & stories
Widya Julian
Di kehidupan sebelumnya, kakakku rela mengantar wanita simpanannya keluar kota hanya karena wanita itu bilang ingin melihat hujan meteor. Dia pun membawa seluruh pengawal di rumah dan mengemudi keluar kota demi menciptakan malam hujan meteor untuk wanita itu. Tak disangka, musuh lama yang pernah dihancurkan oleh kakakku malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelinap ke rumah. Dia berusaha membantai seluruh keluarga sebagai pembalasan dendamnya. Ibu berjuang mati-matian untuk melindungiku. Dia terluka parah dan nyaris kehilangan nyawa. Aku terus-menerus menelepon kakakku, memohon agar dia segera pulang membawa bantuan. Akhirnya, dia pun terpaksa pulang bersama pengawal. Musuhnya berhasil ditangkap, tapi malah datang kabar buruk dari luar kota. Wanita simpanan itu meninggalkan sepucuk surat dan menghilang. Entah hidup atau mati, tak ada yang tahu. Dalam suratnya, dia menuduhku dengan kejam. Katanya aku sengaja memancing kakakku menjauh darinya, hingga dia disiksa oleh musuh dan memilih mengakhiri hidup. Kakakku hanya membakar surat itu tanpa ekspresi dan menyuruhku jangan memikirkannya. Setelah kejadian itu, kakak pun disalahkan. Ayah memutuskan menyerahkan kendali perusahaan padaku. Namun, di malam perayaan syukuran itu, aku dibunuh oleh kakakku di kamar tidurku sendiri. Wajahnya tanpa emosi dan berkata, “Orang sekejam kamu memang pantas mati.” “Yang seharusnya mati itu kamu! Aku yang seharusnya menjadi pewaris keluarga ini!” Aku mati tak tenang, tapi saat membuka mata kembali, suara pintu vila didobrak oleh para musuh pun terdengar dari luar.
Kecelakaan dan Penyesalan - Realistis novels & stories
Anonim
Aku dan adikku mengalami kecelakaan mobil. Jantungku robek, dan aku sangat membutuhkan operasi. Namun ibuku yang merupakan direktur rumah sakit justru memanggil semua dokter ke ruang perawatan adikku, untuk melakukan pemeriksaan seluruh tubuh padanya yang hanya mengalami sedikit lecet. Aku memohon pada Ibu untuk menyelamatkanku, tetapi dia malah dengan wajah tak sabar dan membentakku, "Kamu bisa nggak sih pilih waktu kalau mau cari perhatian? Kamu tahu nggak, adikmu hampir saja terluka kena tulang!" Akhirnya, aku mati di sebuah sudut yang tak terlihat seorang pun.
Satu Slip Gaji, Satu Keputusan - Realistis novels & stories
Gheri
Aku berhasil mendapatkan kontrak besar senilai enam puluh miliar rupiah untuk pabrik milik orang tuaku. Hari pembagian gaji pun tiba. Kakakku menerima bonus seratus juta. Adikku menerima bonus dua ratus juta. Sementara itu, slip gajiku hanya berisi satu baris. [Gaji pokok: Rp 6.000.000,00] “Selama sepuluh tahun ini, Kakak nggak pernah sekali pun salah menghitung pembukuan. Bonus seratus juta ini memang pantas buatmu!” “Semua klien memuji Adik karena tampan dan pandai berbicara. Kontrak besar ini juga berhasil didapat berkat jasamu! Ini dua ratus juta buatmu!” Sebelum sempat bereaksi, ibu melemparkan enam puluh lembar uang seratus ribuan yang sudah kusut ke hadapanku. “Orang bodoh dan jelek memang harus kerja lebih keras.” “Jangan lihat seberapa besar usahamu, tapi nilai yang kamu hasilkan cuma segitu.” Aku menatap slip gaji itu. Sedikit tertegun. Untuk melatih kami agar hidup mandiri, ayah dan ibu menetapkan harga untuk setiap barang di rumah. Semangkuk semur daging sapi dihargai enam puluh ribu. Mandi air panas selama sepuluh menit dikenai biaya seratus ribu. Bahkan sejak masih kecil, kami bertiga sudah diwajibkan bekerja di pabrik milik orang tua sendiri agar bisa mendapatkan uang. Kakakku pandai berhitung. Karena itu, dia ditempatkan di kantor, duduk di ruang ber-AC sambil mengurus pembukuan dan menulis kuitansi. Adikku berwajah tampan. Karena itu, dia bertugas sebagai penyambut tamu di ruang resepsionis yang selalu menyediakan camilan sepuasnya. Sedangkan aku... Ibarat batu bata. Di mana pun dibutuhkan, di situlah aku berada. Aku harus membongkar barang. Menyapu lantai. Sekaligus keluar menemui klien untuk mengurus kerja sama bisnis. Padahal, gaji kami sama-sama enam juta sebulan. Kalau ingin makan daging, aku hanya bisa bekerja mati-matian untuk membuktikan nilai diriku. Namun sekarang... Aku bahkan tak tahu lagi, untuk apa semua jerih payahku selama ini. Aku menunduk membuka ponsel, lalu menggulir deretan pesan spam sampai akhirnya menemukan sebuah pesan berisi tawaran pekerjaan bergaji tinggi.
Menghadapi Kematian di Depan Mata - Realistis novels & stories
Eriana
Aku mengalami kram menstruasi dan memesan obat pereda nyeri. Di aplikasi, pengantarnya tertulis seorang pengendara wanita, tapi yang datang ternyata seorang pria mabuk. Kali ini, aku tidak menelepon dua kakakku untuk meminta bantuan. Langsung saja aku melapor ke polisi. Di kehidupan sebelumnya, kedua kakakku bukan hanya memanggil semua pengawal pribadi yang ada, tetapi mereka sendiri juga buru-buru kembali. Akibatnya, mereka melewatkan drama panggung yang dimainkan oleh adik angkat mereka. Adik angkat mereka begitu sedih hingga dia menusukkan tombak mainan ke dirinya sendiri di atas panggung dan membuat dirinya terluka parah. Kedua kakakku mencoba menghiburku, "Jangan merasa bersalah. Setidaknya kamu tetap selamat." Namun, di balik itu, mereka mengikatku dan menyerahkanku kepada sekelompok pria mabuk. "Cuma pria mabuk, 'kan? Kamu bisa mengusirnya sendiri. Kenapa harus manggil kami? Sekarang lihat akibatnya. Kalau Hilda meninggal, kamu juga jangan berharap bisa hidup!" Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari di mana pria mabuk itu mengetuk pintuku. Kali ini, aku tidak menelepon mereka. Mereka akhirnya bisa menyaksikan drama panggung adik angkat mereka, memberi dukungan dan semangat. Namun, setelah drama itu selesai, mereka malah menyesal.
Setelah Semua Penderitaan Berlalu - Realistis novels & stories
Atanim
Suamiku selalu dipuji oleh teman-teman sebagai suami idaman. Semua orang bilang dia begitu mencintaiku dan menjagaku sepenuh hati. Hingga akhirnya aku pergi melakukan pemeriksaan kehamilan. Kakak sepupuku meneleponnya untuk berpamitan sebelum bunuh diri. Tanpa ragu sedikitpun, dia meninggalkan aku yang sedang hamil enam bulan dan pergi menemuinya dengan panik. Ibuku malah memintaku untuk berlapang dada dan ‘meminjamkan’ suamiku pada kakak sepupuku yang sedang depresi. Abangku juga memarahiku, “Kamu bisa tetap tinggal di rumah ini juga karena Susan membelamu! Jadi, apapun yang dia mau, kasih saja padanya!” Aku merasa ini sungguh keterlaluan. Padahal aku adalah keluarga kalian yang sebenarnya, dia hanyalah pencuri yang merebut posisiku. Namun, saat akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kalian semua, kenapa justru kalian yang menyesalinya?
Rupture Jantungku, Tapi Ibu Memilih Menyelamatkan Adikku - Realistis novels & stories
Dreamers
Aku dan adikku mengalami kecelakaan mobil bersama. Aku mengalami rupture jantung dan harus segera dilakukan operasi darurat. Namun, Ibu yang merupakan direktur rumah sakit di sana justru memanggil semua dokter untuk ke kamar adikku demi melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya yang sebenarnya hanya mengalami luka ringan. Aku memohon kepada ibu agar menyelamatkanku, tetapi Ibu malah menatapku dengan wajah penuh kekesalan dan membentakku, “Kamu cari perhatian seperti ini tidak bisa lihat waktu, ya? Kamu tahu, adikmu itu hampir patah tulang!” Pada akhirnya, aku mati di sudut rumah sakit tanpa seorang pun menyadarinya. Namun setelah kabar kematianku sampai ke telinganya, Ibu yang paling membenciku itu … justru menjadi gila.
Anak Orang Kaya yang Hidup Miskin - Realistis novels & stories
Hedgehog
Sehari sebelum tahun baru, demi tiga kali upah lembur, kedua orangtuaku meninggalkan aku sendirian di rumah. Aku pikir selama dua puluh tahun ini, mereka selalu begitu. Jadi tahun ini, aku tidak ingin kesepian melewati tahun baru seorang diri. Akhirnya aku membawa Siomay pergi mencari mereka. Namun aku tidak pernah menyangka, kedua orang tuaku yang sering bilang mencari nafkah untuk menghasilkan lebih banyak uang, justru aku memergoki mereka turun dari mobil mewah. Mereka merangkul seorang anak lelaki yang tampak seumuran denganku, masuk ke hotel bintang lima sambil bersenda gurau. “Ayah, Ibu, kalian meninggalkan Nia seorang diri di rumah, nggak masalah? Ibuku berkata dengan datar, “Nggak apa-apa, dia sudah terbiasa kok.” Ayahku berkata dengan acuh tak acuh, “Dia nggak bisa dibandingkan denganmu, kamu adalah buah hati kami.” Aku pun berbalik dan pergi. Mereka pura-pura miskin, untuk menipuku. Kali ini, aku juga tidak berharap ditemani mereka.
Ibu, di Kehidupan Berikutnya Cintailah Aku - Realistis novels & stories
Gold
Sejak sudah bisa mengingat sesuatu, aku tahu kalau ibuku membenciku. Saat aku berusia tiga tahun, dia memberiku obat tidur. Di usia lima tahun, dia menyuruhku minum racun serangga. Tetapi aku tidak mudah mati. Dan ketika berusia tujuh tahun, aku belajar melawannya tanpa ada yang mengajariku. Kalau dia tidak memberiku makan, aku akan membalikkan meja makan agar semuanya juga tidak bisa makan. Kalau dia memukuliku dengan tongkat hingga terguling di lantai, aku akan memukuli anak laki-laki yang paling dia sayangi hingga wajahnya lebam. Aku sangat keras kepala dan terus melawan hingga usia dua belas tahun. Sampai ketika adik perempuanku yang paling kecil lahir. Dengan gerakan tangan yang canggung, aku mencoba mengganti celana anak kecil yang basah itu. Ibu langsung membantingku ke dinding dengan keras. Dia menatapku dengan jijik dan ketakutan. “Apa yang mau kamu lakukan pada anak perempuanku?” “Dasar anak tukang pemerkosa! Kenapa kamu tidak mati bersamanya saja?!” Saat itu juga, aku akhirnya mengerti mengapa dia tidak pernah mencintaiku. Aku menutup kepalaku yang berdarah dan untuk pertama kalinya tidak melawan saat dipukuli. Dan untuk pertama kalinya juga, aku merasa apa yang dia katakan itu benar. Keberadaanku adalah sebuah kesalahan. Aku seharusnya mati.
Kembang Api Menyala, Perselingkuhan Terbongkar - Realistis novels & stories
Fani
Pada Malam Tahun Baru, kembang api yang dinyalakan di desa menerangi separuh langit dengan cahaya merah. Namun, suamiku dan kakak iparku tiba-tiba menghilang bersamaan. Beberapa baris komentar mendadak melayang di depan mataku. [Suaminya bahkan memanfaatkan suara petasan untuk bercinta di tumpukan jerami dan istri sahnya masih sempat melihat kembang api!] [Kakak ipar bahkan sudah melepas jaket tebalnya, dan hanya tersisa pakaian dalam berenda yang langsung menempel di tubuh? Harus diakui, cukup menggoda ….] [Aaaah, seru sekali! Berselingkuh di tumpukan jerami di kampung halaman, cinta terlarang macam apa ini!] Aku berbalik dan berjalan menuju halaman belakang. Benar saja, aku pun mendengar suara manja Dessy. “Pelan-pelan ... aku sudah tidak tahan ....” Peter terdengar begitu tergesa-gesa, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya. “Kenapa takut? Suara kembang apinya sangat keras. Sekalipun kamu berteriak hingga serak, tidak akan ada yang mendengar ....” Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali ke halaman depan dan meninggikan suara. “Adik Sepupu, bukankah kamu ingin mengadakan pesta api unggun? Kebetulan di halaman belakang ada tumpukan jerami.” Bukankah mereka ingin mencari sensasi di bawah cahaya kembang api? Kalau begitu, akan kubuat suasananya semakin panas.
Harga Sebuah Keluarga - Realistis novels & stories
Muriaz
Saat aku berusia tujuh tahun, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama kemudian, ibuku menikah lagi dengan cinta pertamanya dan membawaku tinggal bersama keluarga barunya. Pada makan malam pertama di rumah itu, ayah tiriku mengumumkan sebuah aturan keluarga. "Mulai sekarang, di keluarga ini masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri." Saat itu aku mengambil sepotong daging sapi dan memakannya. Namun setelahnya, ayah tiriku meminta aku yang baru berusia tujuh tahun membayar enam juta untuk biaya makanan tersebut. Aku menoleh ke arah kakak tiriku yang sedang makan dengan lahap. "Kakak juga makan daging sapi. Kenapa Papa nggak minta Kakak bayar?" "Karena dia anak kandung Papa," jawab ayah tiriku. "Papa sayang dia, jadi dia punya hak istimewa karena ada hubungan darah." Aku pun memandang Ibu. Ayah tiriku melanjutkan, "Mamamu itu istriku. Papa cinta dia, jadi dia juga punya hak istimewa." "Sedangkan kamu, kita nggak punya hubungan darah, juga nggak ada ikatan perasaan. Papa nggak punya kewajiban untuk membesarkan kamu."
Kesalahpahaman Kejutan Ulang Tahunku - Realistis novels & stories
Jane Stanley
Ibu tanpa sengaja memasukkanku ke sebuah grup bernama "Keluarga Bahagia". Di dalam grup itu hanya ada tiga orang: Ayah, Ibu, dan seorang anak laki-laki asing dengan catatan nama "Sayang". Mereka sedang sangat sibuk merencanakan pesta ulang tahun untuknya, sementara besok adalah ulang tahunku yang sudah sepuluh tahun berturut-turut mereka lupakan. Ibu berkata. [ Lokasinya harus dibuat seperti dalam dongeng, biar dia jadi bangsawan muda yang sesungguhnya. ] Papa mengirim amplop merah besar. [ Uang bukan masalah. Jangan sampai kakakmu tahu, nanti dia jadi kesal. ] Aku diam-diam mengambil tangkapan layar, bersiap mencari kesempatan untuk benar-benar membuka semuanya. Saat itu, adik perempuanku yang selalu berprestasi tiba-tiba mengirim pesan pribadi kepadaku berisi sebuah tangkapan layar. Itu adalah rekaman percakapannya dengan Ibu. [ Bu, pesta ulang tahun kejutan untuk Kakak sudah kamu atur semuanya, 'kan? Kamu sudah janji sama aku, ini terakhir kalinya kita membohonginya. ]
Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi - Realistis novels & stories
Flower
Di hari ulang tahunku, aku dan adik angkatku mengalami kecelakaan mobil. Saat api mulai mengoyak tubuhku, tunanganku justru menunjuk ke kursi penumpang dan berseru, "Selamatkan Julia dulu, dia punya penyakit jantung!" Saat terbangun, wajahku hancur sepenuhnya, dan hidupku divonis tinggal satu bulan lagi. Demi kepentingan bisnis kedua keluarga, orang tuaku memutuskan agar adik angkatku menggantikanku untuk menikah. Tunanganku membelai perban di wajahku dengan penuh simpati, lalu berjanji, "Setelah kamu sembuh, posisi Nyonya Rivano tetap akan menjadi milikmu." Aku tersenyum dan menyetujuinya. Bahkan, aku memberikan semua saham, aset properti, hingga karya lukisanku yang belum dipublikasikan sebagai hadiah pernikahan untuk adikku. Bermodalkan lukisanku, dia menjadi seniman besar yang dipuja banyak orang. Saat diwawancarai wartawan, ibuku menangis haru. "Syukurlah dulu bukan dia yang celaka. Kalau nggak, keluarga kami pasti akan kehilangan sosok genius seperti dia!" Tunanganku pun mengumumkan dengan bangga bahwa adikku akan menjadi satu-satunya nyonya di Keluarga Rivano. Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa sang genius yang asli sedang memperhatikan mereka dengan dingin dari sudut ruangan. Dan segala hal yang kuberikan dengan tanganku sendiri itu .... Sejak awal hanyalah tumbal yang kusiapkan untuk membalas dendam.
Aku Ditumbalkan Demi Menyelamatkan Nyawa Adikku - Realistis novels & stories
Anonim
Adikku menderita kanker ginjal stadium akhir, dan ayah serta ibu menuntutku untuk mendonorkan ginjalku padanya. Aku bilang aku hanya punya satu ginjal, kalau diambil aku akan mati. Namun, mereka bukan hanya tidak percaya, mereka malah langsung mengikatku di meja operasi "Cuma ambil satu ginjalmu saja, kenapa kamu egois sekali?" Mereka tidak tahu, aku tidak berbohong. Saat ayah mengalami kecelakaan mobil dulu, aku sudah mendonorkan satu ginjalku.
Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya - Realistis novels & stories
Gaston
Di kehidupan sebelumnya, aku dibawa kembali ke Keluarga Shafron. Demi seorang putri angkat, kakak kandungku memfitnahku, menuduhku membuat penyakitnya kambuh. Orang tua kandungku percaya dan mengusirku dari rumah. Tak lama kemudian, aku mati karena sakit di pinggar jalan. Saat terbangun lagi, aku kembali ke hari di mana diriku dijemput oleh Keluarga Shafron. Michael menghalangi jalan orang tua, menunjukku dan berkata, “Ayah, Ibu, dia bukan adikku!” Pasangan suami istri itu menatapku dengan rasa kecewa, lalu berbalik dan pergi. Aku berdiri di tempat, tak mengeluarkan liontin giok yang bisa membuktikan identitasku, lalu diam-diam berjalan kembali ke panti asuhan. Dua puluh tahun kemudian, aku telah menjadi salah satu ahli penyakit dalam terkemuka di dalam negeri. Pria yang duduk di hadapanku menyodorkan rekam medis dengan suara gemetar, “Dokter, kumohon tolong selamatkan adikku.” Saat melihat nama di berkas itu, gerakanku pun terhenti. Pandanganku tertuju pada wajah yang tampak lesu dan kusam itu. Setelah menatapnya agak lama, barulah aku berpaling ke arah pria itu dan berkata, “Aku nggak menerima pasien ini.”
Kisah Motor - Realistis novels & stories
Sorami
Setelah suamiku mengalami kecelakaan kerja dan tidak bisa lagi bekerja di proyek, ia membeli sebuah motor bekas yang sudah dimodifikasi untuk mencari nafkah sebagai tukang ojek desa. Awalnya aku hanya ingin menemaninya beberapa hari agar ia lebih aman di jalan. Namun, beberapa preman desa memanfaatkan kesulitan keluarga kami. Mereka memaksa kami menandatangani utang berbunga tinggi, menyuruh suamiku mengantar barang-barang mencurigakan, dan berkali-kali mengancam akan menghancurkan nama baik keluarga kami jika kami melawan. Aku memilih diam demi anak-anak dan pengobatan suamiku. Kupikir semua itu akan berlalu jika kami cukup sabar. Sampai suatu malam, polisi datang mengetuk pintu rumahku dan memberitahuku bahwa suamiku jatuh ke jurang bersama empat orang yang selama ini menindas kami. Di bawah bantalnya, aku menemukan sepucuk surat terakhir. Barulah aku tahu, ia ternyata sudah mengetahui semuanya.
Kematian Palsu Adikku - Realistis novels & stories
Sarina Raisha
Ketika surat keterangan lulus universitas tiba, aku malah demam tinggi dan terbaring di tempat tidur. Adikku yang pergi mengambilkan surat itu untukku, malah mengalami penculikan di tengah jalan dan nasibnya tak diketahui, entah masih hidup atau sudah tiada. Orang tuaku memendam kebencian mendalam padaku. Mereka merobek suratku dan memaksaku berhenti sekolah, lalu menyuruhku bekerja di pabrik. Kemudian, aku juga diculik. Setelah berhasil melarikan diri dengan nyaris kehilangan nyawa, aku bersembunyi di sebuah pabrik tua sambil mengirim pesan meminta bantuan pada ayahku. Tak lama kemudian, ayah meneleponku dan langsung berteriak marah, “Sandra Joman! Dasar anak brengsek! Bisa-bisanya kamu bercanda seperti ini di hari kematian Valarie! “Kamu tahu nggak, betapa aku dan ibumu berharap yang meninggal waktu itu adalah kamu!” Detik-detik sebelum kematian, kata-kata hinaan mereka terus terngiang di telingaku. Tubuhku disiksa sampai tak berbentuk lagi, aku meninggal dengan tragis. Jasadku dibuang ke selokan busuk selama tiga hari. Bahkan, ayahku yang seorang ahli forensik senior pun tak bisa mengenali siapa diriku. Ketika adikku pulang bersama pacar yang kabur bersamanya dulu, ayah baru saja berhasil memulihkan wajahku melalui rekonstruksi teknologi. Mereka berlutut di depan jasadku yang telah membusuk, menangis hingga tak sadarkan diri.
Kasih Sayang Ibu yang Berat Sebelah - Realistis novels & stories
Anonima
Adik laki-lakiku mendorongku jatuh ke jurang, nyawaku berada di ambang kematian. Namun, ibu yang merupakan kepala tim penyelamat, malah hanya memedulikan pergelangan tangan adikku yang terkilir. Dengan napas tersengal-sengal, aku memohon padanya agar menyelamatkanku. Ibu malah menatapku dengan wajah dingin dan berkata, "Adikmu sudah terluka, kenapa kamu nggak melindunginya? Masih saja berpura-pura lemah di depanku? Kalau begitu, kamu tinggal saja di sini sendirian dan renungkan kesalahanmu!" Dia lalu berbalik dan memerintahkan seluruh petugas penyelamat untuk pergi, melarang siapa pun menolongku. Akhirnya, aku meninggal sendirian di daerah terpencil. Setelah mendengar kabar kematianku, ibu menjadi gila dan memeluk jasadku yang sudah membusuk sambil terus memanggil, "Anakku sayang."
Suami dan Anakku Direbut Sahabatku - Realistis novels & stories
Daliah Wahidah
Di tahun kesepuluh pernikahanku, mantan sahabatku memposting sebuah foto. Putrinya dan putraku masing-masing digendong olehnya dan suamiku. Keempat orang itu berdiri berdekatan dan di bawah foto itu tertulis: "Sudah sepasang 'kan anak-anak kami?" Aku berkomentar untuk foto itu, Pasangan yang sempurna. Detik berikutnya, postingan itu dihapus. Keesokan harinya, suamiku bergegas pulang dan bertanya padaku, "Susah payah aku membuat kondisi Sophie membaik, kenapa kamu malah cari ribut?" Putraku bahkan mendorong dan menuduhku, "Ini semua salahmu! Adikku jadi menangis." Aku mengeluarkan surat cerai dan melemparkannya ke wajah mereka. "Ya, ini salahku! Jadi biar aku yang pergi, semoga kalian berempat jadi keluarga bahagia!"
PREV
1234
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status