Adrian
Aku terlahir dengan sebuah sistem keberuntungan. Setiap kali aku merasa bahagia, semua orang di sekitarku akan menghasilkan uang.
Demi menjaga suasana hatiku tetap baik, ayahku yang seorang miliarder mengajakku berpetualang setiap hari. Dia memanjakanku dengan sepatu edisi terbatas, menyewa kapal pesiar pribadi, dan menghadiahkan berbagai barang mewah yang hanya ada satu di dunia kepadaku.
Semua itu ditentukan oleh satu hal. Keberuntungan Grup Kuncoro terikat langsung dengan suasana hatiku.
Selama aku tertawa sampai terpingkal-pingkal, harga saham perusahaan akan terus naik dan uang mengalir tanpa henti. Begitu suasana hatiku memburuk, kerugian langsung bermunculan. Bahkan yang terburuk, seluruh grup bisa bangkrut.
Contohnya bulan lalu. Salah seorang petugas kebersihan tanpa sengaja membuang setengah makaron yang kutinggalkan di atas meja. Aku hanya kesal sesaat, bahkan tidak sampai sedetik.
Keesokan harinya, Grup Kuncoro Wilayah Barat mencatat kerugian sebesar 1,5 triliun.
Ayahku menghabiskan semalaman membeli sepuluh toko roti premium sekaligus memutus kontrak perusahaan kebersihan itu hanya untuk menenangkanku.
Sejak saat itu, tak seorang pun dari kalangan elite Manhattan berani bersikap kurang ajar sedikit pun di hadapanku.
Sampai akhirnya ayahku terbang ke Los Angeles untuk urusan bisnis, dan Isabella, putri kandung yang baru saja ditemukan setelah bertahun-tahun terpisah, masuk ke kamarku.
"Selama bertahun-tahun kamu cuma numpang hidup di keluarga ini," katanya sambil menatapku dengan penuh penghinaan. "Apa kamu benar-benar mengira menguras nama besar Keluarga Kuncoro bisa membuatmu jadi pewaris yang sebenarnya? Akulah yang memiliki darah Keluarga Kuncoro. Sekarang aku sudah kembali, jadi sudah waktunya kamu angkat kaki dari rumahku."
Aku tidak bereaksi.
Dia mengambil secangkir kopi hitam yang ada di dekatnya lalu menyiramkannya begitu saja ke atas keyboard laptopku. Aku hanya bisa melihat layar itu langsung mati, sementara kehampaan perlahan memenuhi dadaku.
"Berlutut dan bersihkan."
Aku mengusap kopi yang membasahi wajahku. Udara di sekelilingku seolah-olah berubah menjadi dingin.
Grup Kuncoro sebentar lagi akan hancur berantakan. Tanpa sadar, aku bertanya-tanya apakah ayahku yang berada ribuan kilometer jauhnya di Los Angeles saat ini sudah mulai meraih obat jantungnya saat melihat ratusan triliun lenyap dari nilai saham perusahaan.