Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Tilasmat

Tilasmat

Maklum lidah orang gunung) "Oooh, si Seokjin bukan?" timpal yang lain. "Heueuh, tah eta," kata Imas. (Iya, betul itu,) "Atuh sieun Tika, Imas ari Jin mah," imbuh salah satu Ibu-ibu. (Takut atuh Tika, Imas kalau Jin mah)
105.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 177 kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
Petaka Mendua

Petaka Mendua

Bab92 Tania mengulas senyum, ketika merasa semuanya berada di genggamannya. Ia pun melakukan panggilan telepon ke nomor Karin, dan mulai bercerita, tentang kejadian di rumah tangganya. "Gila, nekat banget kamu, Tan!" pekik Karin di sebrang telepon. Tania terkekeh. "Harus dong, Kak. Jika tidak begitu, Raka bakal jadi agar-agar, Kak."
10100.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.7K kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
The Vampire TwinS

The Vampire TwinS

“Aku janji Raii, aku janji!!” Aku melihat pria berambut merah yang tengah menggendong salah satu bayi kembar di tangannya, sedangkan wanita berambut coklat terlihat sembab sembari menggendong anak lainnya. Wajahnya tidak pernah luput menatap bayi kembar yang baru lahir satu hari itu. menatapnya lekat-lekat, satu bayi memiliki mata kanan berwarna hijau, dan satu lagi berwarna merah. Aku melihat pria berambut merah turun dan bertemu dengan satu pemuda yang lebih tua tiga tahun darinya, itu paman. Paman membawa bayi laki-laki dengan mata kanan berwarna hijau, sedangkan bayi dengan mata merah tetap berdiam di tempat ini.
102.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
Dua Sisi

Dua Sisi

tanya Ayu yang melangkah keluar sambil mengibas asap tebal di depannya. “Kesel gue, Ay. Dari tadi apinya nggak mau idup!” sahut Ameera sambil sesekali meniup tungku. “Minggir, kamu! Wes, biar aku aja yang hidupkan apinya!” Ayu mengambil alih tempat Ameera berjongkok. Sementara gadis itu bangkit seraya mengucek matanya yang pedih karena asap. Ayu mengambil pipa air yang tidak terlalu panjang berada di samping tungku. “Kamu itu salah set, Ra! Harusnya pake alat ini!” ucapnya, lalu meniup tungku.
108.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 208 kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
2'20

2'20

“Mereka sudah menghancurkan tempat ini, mereka bilang kita masih bisa hidup dengan memakan sesama, kita juga bisa terbebas dari efek serangan tornado dan tak menjadi Pati, fisik kita akan berkali-kali lebih kuat jika kita berani makan sesama.” “Apa maksudmu? Akh!” jerit Jane mencakar lengan pemuda itu agar melepaskan cekikan di lehernya, “Wre—wrena apa? Pa—ti? Omong kosong!” Pemuda itu menyeringai, kedua taring di giginya memanjang layaknya vampire sedangkan kedua matanya kini memiliki warna hijau yang sama, Jane juga dapat merasakan bahwa cekikan di lehernya itu bertambah kuat serta kuku-kuku tajam yang memanjang seakan sedang menusuk kulit-kulit lehernya.
1012.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 500 kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
Garis Dua Yang Yertunda

Garis Dua Yang Yertunda

Satu menit Dua menit Tiga menit Menit demi menit berlalu, Salma takut, namun ia juga tak bisa menahan harap. Akhirnya, ia mengambil benda kecil itu. Samar, sangat tipis di bagian garis kedua. Berkali-kali Salma mengucek mata. Ia takut berhalusinasi. Ia membawa alat itu keluar, ke arah jendela yang lebih terang. Seketika Salma terpaku. Nafasnya tertahan. Garis itu tetap sama. Garis Dua–seolah menjawab semua doa yang selama ini ia simpan di keheningan malam.
377 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13 kali sebagai 2-tak
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Gak ada yang bilang fase dua tahun itu santai, tapi aku belajar banyak trik yang malah bikin hari-hari terasa lebih ringan.

Pertama, rutinitas itu kuncinya. Aku selalu menaruh momen makan, tidur siang, dan main di jadwal yang konsisten; anakku jauh lebih mudah diajak kerja sama kalau tubuhnya nggak rewel karena lapar atau capek. Selain itu, aku pakai pilihan terbatas—misalnya, 'Mau baju warna merah atau biru?'—biar dia merasa punya kendali tanpa aku kehilangan arah. Waktu ledakan emosi datang, aku lebih memilih validasi singkat seperti, 'Kamu kesal ya karena mainannya copot,' lalu kasih ruang aman untuk meluapkan perasaan.

Yang paling membantu adalah kompromi kecil dan konsistensi. Kalau aku ngasih batasan, aku berpegang pada itu; kalau aku melunak tiap kali tantrum, anak cepat ngerti kalau ngamuk itu jalan pintas dapat apa yang dia mau. Juga, aku selalu menyiapkan strategi preventif: camilan sehat di tas, mainan transisi saat pindah aktivitas, dan lagu favorit untuk menenangkan. Dengan sabar dan sedikit perencanaan, fase ini terasa lebih terkontrol dan, anehnya, kadang malah lucu — karena di balik amukannya ada perkembangan besar yang sedang terjadi.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status