Suamiku Simpanan Tante-tante
“Aku nggak keberatan hidup pas-pasan kayak dulu, kok. Aku menerima dengan ikhlas dan ridho dengan apa yang Mas berikan padaku.”
Mas Saleh tidak langsung menjawab. Dia sepertinya tahu ke mana arah ucapanku tadi. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, aku kembali berbicara, “Aku benar-benar lebih merasanya nyaman dengan kehidupan kita yang dulu, Mas. Kamu yang nggak pulang malam, banyak waktu juga buat main sama Kevin. Aku suka kita yang dulu.” Sebisa mungkin aku berkata lembut padanya. Tidak ingin membuatnya tersinggung. “Mas, aku—“