Si ALFA BIKER YANG MENJADI MATE KEDUA KESAYA
“Kamu hanya seperti saudara perempuan bagiku.”
Itulah kata-kata yang benar-benar mematahkan punggung unta.
Bukan setelah apa yang baru saja terjadi.
Bukan setelah malam panas, tanpa napas, yang mengguncang jiwa kita, saat tubuh kita saling terpilin satu sama lain.
Aku tahu sejak awal bahwa Tristan Hayes adalah garis yang seharusnya tidak aku lintasi.
Dia bukan sembarang orang, dia sahabat kakakku. Pria yang sudah bertahun-tahun aku inginkan secara diam-diam.
Tapi malam itu… kami sama-sama hancur. Kami baru saja mengubur orang tua kami. Dan kesedihan itu terlalu berat, terlalu nyata.... sehingga aku memohon agar dia menyentuhku.
Agar aku bisa melupakan. Mengisi keheningan yang ditinggalkan kematian.
Dan dia melakukannya. Dia memelukku seolah aku sesuatu yang rapuh.
Menciumku seolah aku satu-satunya hal yang dia butuhkan untuk bernapas.
Lalu meninggalkanku berdarah dengan enam kata yang membakar lebih dalam daripada penolakan mana pun.
Jadi, aku melarikan diri. Menjauh dari segala hal yang menyakitiku.
Sekarang, lima tahun kemudian, aku kembali.
Baru saja menolak mate yang menyiksaku. Masih membawa bekas luka dari pup yang tak sempat aku gendong.
Dan pria yang menungguku di bandara bukan kakakku.
Itu Tristan.
Dan dia bukan pria yang kutinggalkan dulu.
Dia seorang biker.
Seorang Alpha.
Dan saat dia menatapku, aku tahu tak ada lagi tempat untuk melarikan diri.