Enggan Punya Anak
“Ya begitu-begitu aja, Nduk. Sudah tua banyak penyakit. Kemarin bapakmu terpeleset di sawah. Mau Emak bawa ke puskemas, tapi dia ndak mau.”
Hatiku menjerit. Aku di sini mengurus orang tua Mas Herman yang sama sekali tidak menghargaiku, sedangkan orang tuaku sendiri kuabaikan.
“Maafkan Farah, Mak. Padahal Farah anak Emak dan Bapak satu-satunya, tapi aku nggak ada di saat kalian membutuhkan Farah.”
“Teman satu-satunya yang tinggal saat kita tua memang hanya pasangan, Nak. Anak punya kehidupan sendiri, punya kesulitan sendiri. Karena bakti, kita tidak bisa menyengsarakan anak.”
Bab Populer