Terpaksa Menikahi Pacar Kakak
Pemilik panti menatap surat itu dengan dahi mengernyit, lalu menunduk memandangi wajah si bayi yang tenang, polos, dan tak tahu apa pun tentang dunia yang baru ia masuki.
Kasihan sekali kamu, Nak… Tapi kamu aman di sini sekarang,” ujar Nafisa lembut, sembari mengusap pelan kepala si bayi. “Perkenalkan, namaku Nafisa. Kamu bisa memanggilku Ibu… atau Bunda.”
Suara Nafisa tenang dan penuh kasih. Bayi kecil itu hanya menggeliat pelan dalam pelukannya, matanya masih tertutup rapat, nafasnya teratur seperti mulai merasa tenang.
Hot Chapters