Setiap kali menyentuh karya terbaru Tien Kumalasari, rasanya selalu ada sesuatu yang baru dan menggetarkan. Cerbung terbarunya mengangkat tema pencarian jati diri yang tak lekang oleh waktu. Dalam kisah tersebut, kita dipandu oleh karakter utama yang berjuang menghadapi dualisme antara harapan dan kenyataan. Melaluinya, kita bisa melihat bagaimana berbagai pengalaman hidup, baik suka maupun duka, membentuk kepribadian seseorang. Tema ini terasa sangat mendalam dan relevan, tidak hanya untuk remaja, tetapi juga bagi orang dewasa yang pernah kehilangan arah dalam hidup. Menariknya, Tien juga menyisipkan elemen budaya lokal yang kental, seperti tradisi dan nilai-nilai yang dianut masyarakat, sehingga cerita ini terasa lebih dekat dan penuh makna.
Pertama-tama, saya terkesan dengan cara Tien menggambarkan proses inner journey karakternya. Kita dihadirkan pada momen-momen di mana karakternya harus memaknai ulang orang-orang dalam hidupnya. Apalagi saat karakter tersebut harus menghadapi berbagai pengaruh luar yang mencoba membentuk dirinya menjadi sosok yang bukan dirinya. Di sini, Tien menunjukkan bahwa pencarian jati diri bukanlah proses yang mulus, melainkan sebuah perjalanan yang penuh liku-liku. Ada bagian-bagian di mana karakter merasa terasing dan bingung, yang membuat saya merenung tentang perjalanan hidup saya sendiri.
Kedua, tema hubungan antarkeluarga juga diangkat dengan sangat baik. Ada konflik yang terjadi antara generasi yang lebih tua dengan yang lebih muda, khususnya dalam memahami harapan dan impian masing-masing. Saya merasa ini adalah refleksi dari banyak hubungan yang ada di masyarakat kita. Tien berhasil mengaduk emosi pembaca, terutama ketika momen-momen kerinduan dan rasa kesalahan muncul di antara karakter. Ini benar-benar menambah kedalaman cerita dan membuat kita merasa terhubung dengan karakter-karakter tersebut.