Terpaksa Menikahi Paman Suamiku
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, dan dengan nada tajam yang tak bisa dibantah, ia berkata, “Apa pendapat dia soal Galih, itu urusannya. Dia nggak punya hak untuk ikut campur dalam hidupku lagi.”
Mahardika menatapnya sejenak, lalu menunduk, jari-jarinya mengetuk perlahan sisi cangkir, mencari celah untuk mencairkan suasana. “Ngomong-ngomong, Jagoan itu anak yang luar biasa,” katanya mencoba tersenyum, meski senyumnya terasa dipaksakan.
“Kalau dia ikut ke Malaysia, masa depannya bisa terbuka lebar. Dia punya bakat alami di bidang komputer. Dengan bimbingan yang tepat, aku yakin dia bisa jadi salah satu yang terbaik.”
Bab Populer