Gagal Menjadi Bulanmu
Arsen tertegun sejenak, sebelum akhirnya dia berbalik untuk menatap buku merah di tangan kepala kantor itu.
Butuh waktu lama baginya untuk perlahan mengulurkan tangan. Namun, detik saat ujung jarinya menyentuh buku sertifikat itu, rasanya seolah disetrika oleh plat baja panas. Dia tersentak dan buru-buru menarik tangannya. Buku itu bergetar pelan di udara, bagaikan bara api yang menghanguskan pandangannya, menyisakan kegelapan yang perih. Dia mendengar jelas suara dirinya menelan ludah dengan susah payah, sementara rasa anyir bagai karat besi perlahan naik dari tenggorokannya yang kering kerontang.