Pernikahan tanpa Bahagia
Lalu perlahan, Rania melanjutkan, “Waktu itu, ibumu baru saja kehilangan suaminya. Ia datang ke taman ini setiap sore, duduk di bangku yang sama, menulis puisi tentang langit dan hujan. Aku sering duduk di sini juga — menulis surat untuk seseorang yang tidak pernah kembali. Mungkin karena sama-sama sendirian, kami jadi akrab.”
Suaranya begitu tenang, tapi di balik ketenangan itu, Arga bisa merasakan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
“Ibumu sering bilang,” lanjut Rania, “bahwa menulis adalah cara untuk tetap hidup, bahkan ketika kita kehilangan arah. Dia banyak menulis tentang kamu, tahu? Tentang anak laki-laki kecil yang selalu memintanya membuat cerita sebelum tidur. Tentang tawa keci
Bab Populer