Dimanja Tiga Majikan Cantik
Bulu matanya bergetar.
Perlahan-lahan, sangat lambat, mata itu terbuka sedikit demi sedikit. Bukan bukaan mata yang lebar dan segar. Hanya celah sempit yang memperlihatkan bola matanya yang sudah keruh dan diselimuti selaput putih.
Mata itu tidak langsung fokus. Pandangannya menerawang kosong ke langit-langit ruangan sebentar.
"Mak, ini Rafli, Mak. Liat sini," panggilku lagi, mendekatkan wajahku ke wajahnya sampai hidung kami hampir bersentuhan.