Selir Yang Terlupakan
Kehangatan yang memancar dari tatapan dan sentuhannya seketika tersembunyi kembali di balik tembok pertahanan yang tak tertembus.
"Dinding-dinding istana ini memiliki telinga yang tak pernah tidur," lanjutnya, matanya menyipit lekat menatapku seolah ingin mengukir wajahku di ingatannya. "Dan telinga-telinga itu milik orang-orang yang tak akan ragu melihatmu mati sebelum fajar menyingsing, jika mereka percaya kau memiliki kuasa atas diriku. Kau bijaksana untuk mengingatkanku akan hal itu."
Ia kembali meraih gelas anggurnya, meminum isinya sekaligus dalam sekali teguk, seolah ingin menghapus sisa-sisa kelembutan yang sempat terasa di antara kami.