GAIRAH MASA LAJANG
ujar Anggi, membuat Fitria mencubit pahanya yang tak bisa merahasiakan semua yang ia ceritakan semalam di kos-kosan pada ku.
“Ah, kamu ini ada-ada saja, Fit. Aku nggak merasa seperti yang kamu katakan itu, aku hanya pria desa yang kebetulan beruntung bisa masuk dan kuliah di kampus ini.” ucap ku merendah.
“Kami juga kebanyakan dari desa, Ryan. Walaupun sebagian sih dari kota-kota daerah lain,” sahut salah seorang dari belasan cewek-cewek yang baru berkenalan dengan ku itu.