Cinta Terlarang
masih sama, meski terbalut luka.
“Bagaimana rasanya, jika saya memberitahukan Ibu, jikalau suami yang dinanti-natikan sepanjang ribuan malam itu ternyata belum berkalang tanah, melainkan sudah bersama madu, berkalang harta, dan tahta? Apa yang akan Ibu saya katakan, apakah Anda bisa menebaknya Pak Deni?”
Kalimat demi kalimat, meluncur manis serupa aksara yang tertata, namun menusuk. Deni tahu betapa banyak kesalahannya yang tak mungkin bisa ditebus semudah itu.
Hot Chapters