Ada satu kisah nyata yang selalu bikin hatiku meleleh setiap kali diingat—pasangan suami istri yang bertemu di Masjid Nabawi. Mereka berasal dari negara berbeda, si wanita Indonesia sedang menuntut ilmu di Madinah, sementara pria Yordania bekerja sebagai guide umrah. Pertemuan pertama mereka terjadi saat wanita itu tersesat mencari rak buku di perpustakaan masjid. Pria itu membantunya dengan sopan, dan mereka mulai sering diskusi tentang tafsir Al-Qur'an. Proses ta'arufnya panjang dan penuh lika-liku keluarga, tapi endingnya manis: mereka menikah di bulan Ramadhan dengan mahar mushaf Al-Qur'an tulisan tangan suaminya. Yang bikin baper, sampai sekarang mereka masih rutin mengadakan majelis taklim bersama dan punya tradisi membaca 'Yasin' setiap Jumat malam.
Yang bikin cerita ini special banget adalah bagaimana mereka menjaga batasan syar'i sejak awal. Komunikasi selalu ditemani mahram, pertemuan hanya di tempat publik, dan niatnya jelas untuk ibadah. Justru karena disiplinnya itu, chemistry mereka terasa lebih dalam dan bermakna. Aku pernah baca wawancaranya di majalah muslimah—wanitanya bilang, 'Cinta yang dibangun dengan takwa itu kayak bangunan dari batu karang, sekencang apa pun ombak datang, tetap berdiri.' Kisah mereka juga diangkat dalam novel 'Madinah untuk Selamanya' yang cukup populer di kalangan remaja islami.