Ada seorang nenek di kampungku yang selalu bercerita tentang masa mudanya sebagai penjual gorengan keliling. Dia mulai dengan gerobak kayu reyot, bangun subuh setiap hari, dan seringkali pulang larut malam. Yang membuat kisahnya luar biasa adalah tekadnya untuk menyekolahkan ketujuh anaknya hingga sarjana, meski suaminya hanya buruh tani.
Dia bercerita bagaimana harus menyisihkan uang receh selama 20 tahun, kadang makan nasi dengan garam demi mengumpulkan biaya SPP. Sekarang, semua anaknya sukses dan membangun rumah untuknya. Pesannya selalu sama: 'Kesempatan itu seperti minyak di wajan, harus cepat diambil sebelum menguap.' Kisah sederhana ini mengajarkanku arti konsistensi dan pengorbanan.