SAHABAT DAN KISAH CINTAKU
Tak lama menanti Catur pun datang, dia duduk di sebelahku, dan menatapku dalam diamnya.
"Sin, kok cemberut."
"Iya, biasa lagi sedih Gua pikir in sakitnya Bokap."
Catur memelukku erat, dan aku tak tahan meneteskan air mataku ini.
"Cei..cei...mengapa nih jeruk sama jeruk pelukan, hayo ."
"Ah, lu nih Fauzi, ikut-ikutan saja deh."
"Mau tahu boleh dong Sin, Tur, kalau ada masalah di bagikan cepat hilang bukan masalahnya?"