Saat Aku Tak Lagi Jadi TKW
"Sebentar, Mas. Aku baru duduk. Seharian capek berdiri terus."
"Halah, capek ngapain, sih? Capek tuh aku, tiap hari ngurus anak dan pergi ke sawah. Kerjaanmu mah enak, gak perlu panas-panasan, tiap hari di rumah terus!"
Kerjaanku kan memang di rumah, Mas. Makanya tiap hari di rumah. Ingin rasanya aku bicara begitu pada Mas Patno, tapi kuurungkan. Kalau aku membantah, bisa-bisa urusan jadi panjang dan ujung-ujungnya suami yang kutinggal jadi TKW selama dua puluh tahun itu bisa ngamuk.