LORO
Kendati demikian, tidak membuatnya lupa akan cinta yang ia tinggal di tempat asal.
"Kian," panggilnya. Ia membuka amplop tersebut. Barisan huruf mandarin menyapanya. Tak butuh waktu lama untuk membuat Kapten tersenyum.
Angin berbisik padaku tiap purnama. Dibelainya wajahku yang muram karenamu. Dedaunan kering berkeremis ketika kupijak. Mereka menyanyikanku lagu, tetapi tak semerdu suara langkahmu. Kini, ketika musim semi datang, burung berkicau memberiku kehangatan dalam senyap di petang gulita. Kau datang, kata surat yang tertulis di bawah kaki merpati.
Hot Chapters