Mr. Airlangga
Hidup memang seperti roda berputar, kamu tidak akan pernah tahu sampai kapan kamu bisa tertawa-tawa dan kapan waktunya kamu akan tersungkur penuh tangisan.
“Akhirnya elo keluar juga,” suara Inge riang, ingin merayakan sang Lusia yang akhirnya keluar dari kendang.
“Gue sudah pesenin Americano nih buat kamu,” Arini menyodorkan cangkir berisi kopi Americano panas. Wangi aroma kopi langsung menyeruak indera penciumanku, aku tertegun, sepertinya aku pernah membaca entah di mana bahwa kafein tidak bagus untuk janin, dan aku tidak ingin meracuni bayi mungil di dalam perutku ini dengan kafein nikmat itu, walaupun sekarang aku menelan ludah membayangkan betapa nikmat menyeruput kopi panas itu.
Hot Chapters