CINTA SANG KUPU-KUPU MALAM
Jantungku terasa berdetak tak menentu, menunggu bibir pria itu mengucap sebuah aksara yang mampu meredam lukaku atau justru membuatnya semakin parah.
"Aku berjanji, aku akan tetap menikahimu, Desi!" ucapnya kala itu. Aku memundurkan tubuhku beberapa langkah, memegang daun pintu dari kayu mahoni itu dengan kuat. Rasanya tubuhku terasa limbung, lututku begitu lemas tak mampu lagi menopang raga ini. Netraku seketika memanas, namun aku tidak ingin menangis di hadapan pria itu. Satu satunya manusia di bumi yang kumiliki kini justru pergi meninggalkanku dengan wanita lain.
Ternyata benar ucapan Gus Al, jika Allah itu maha pencemburu. Namun, bagaimana aku bisa mencintai sesuatu itu lebih daripada a
Bab Populer