Sentuhan Adik Sahabatku
Lift terbuka, memperlihatkan lorong lantai dua yang masih sepi dan sunyi, dengan aroma karpet baru yang menyelimuti ruangan.
Di ujung lorong itu, seseorang berdiri.
Langkah Jennar melambat, napasnya tertahan setengah. Wajah itu terlalu familiar untuk diabaikan.
“Mas Daniel?” suaranya keluar tanpa disadari.
Daniel menoleh, senyum santai muncul di wajahnya, seolah masa lalu mereka tak pernah retak.
“Oh, hai, Jen. Apa kabar?”