Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
NEVER ENOUGH

NEVER ENOUGH

mental breakdown, Lisa seketika murung dan ingin menangis. "aku sedang sibuk sekarang" Hening... Devan masih mencoba fokus dan sebisa mungkin tidak terganggu dengan presensi Lisa yang murung di tempat duduknya. "Aku minta maaf van" "Kumaafkan" "Devan-"
103.9K viewsOngoingAdded to Library 151 Times as desperation
Read
+Library
Tersimpan dalam Diam

Tersimpan dalam Diam

“Pertanyaan lo itu udah jadi bahan perdebatan manusia selama ribuan tahun. Lo bukan orang pertama yang bertanya, ‘apa arti hidup?’ atau ‘gimana rasanya hidup tanpa tujuan?’” Alfa menoleh. Tatapannya tajam, tapi di dalamnya ada sesuatu yang samar—rasa ingin tahu. “Dulu, ada seorang filsuf namanya Albert Camus. Dia punya teori yang disebut ‘Absurdism.’” Alana mengangkat alisnya sedikit, memastikan Alfa masih memperhatikannya. “Menurut Camus, hidup itu nggak punya makna yang pasti. Kita lahir, tumbuh, berusaha mencari arti, tapi pada akhirnya, dunia ini nggak menawarkan jawaban mutlak. Itu yang disebut absurditas.”
904 viewsOngoingAdded to Library 20 Times as desperation
Read
+Library
Obsesi

Obsesi

Winter mendengus dingin "Aku tidak sedang memanggilmu, Chandelier. Enyah dan fokus saja pada para ternak." Suara mekanik itu terdengar mendengus sejenak [Kau juga ternak, Winter. Jangan berpikir bahwa kau istimewa hanya karena menjadi survivor terakhir dari mode maut, hibrida rendahan] Dia mulai mengetuk setiap bagian dinding dan terus berjalan maju
104.7K viewsOngoingAdded to Library 165 Times as desperation
Read
+Library
Complicated

Complicated

"Cepat jawab! Atau kau memang ingin mati tersiksa, sampai jantungmu berhenti berdetak kah?" Denish muak akan dirinya sendiri, lemah sekali di mata saudara tiri gilanya ini. "Hen-hentikan semuanya!" Hingga akhirnya, berhasil mengeluarkan suara. "Kumohon." Sudah tidak peduli lagi, karena kenyataannya memang lemah. "Sayangnya nggak akan pernah!" Denish kembali meringis, kala tubuhnya terhempas menghantam benda apapun di dalam rumah. Ditambah semakin sesak, dan menyakitkan.
106.7K viewsCompletedAdded to Library 133 Times as desperation
Read
+Library
Happiness is Unwanted

Happiness is Unwanted

Benaknya telah terpenuhi oleh ambisi balas dendam. Gerald memejamkan matany. Perut yang sedari pagi belum terisi makanan kini mulai terasa perih. Gerald hampir saja menangis atas nasibnya yang mengenaskan jika tidak ada sebuah mobil yang mendadak beehenti di depannya. Tampak seorang ibu paruh payah tergesa keluar dan menghampiri Gerald.
9.99.6K viewsOngoingAdded to Library 316 Times as desperation
Read
+Library
Mimpi Terburuk

Mimpi Terburuk

Via yang duduk di sofa ruang tamu rumah kontrakannya menarik nafasnya, memegang kepalanya, meremas rambutnya, tatapan matanya dingin, dia saat itu begitu merasakan kecemasan yang begitu besar. "Nggak, nggak mungkin, aku gak mungkin seperti itu, aku gak mau, aku gak mau jadi seperti itu." Gumam Via pada dirinya sendiri, menggeleng gelengkan kepalanya, kedua tangannya masih meremas rambutnya, tatapan matanya dingin saat itu, dia kemudian terdiam, tercenung dengan tatapan kosong. Sesaat seperti waktu berhenti, lalu, beberapa saat kemudian, dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ada sesuatu hal yang sedang bermain main dalam benaknya saat itu.
1013.1K viewsCompletedAdded to Library 379 Times as desperation
Read
+Library
Misunderstanding

Misunderstanding

Matanya berkilat merah, memancarkan gurat amarah sekaligus sedih yang bercampur menjadi satu. "Lep-lepas, Ga. Denger penjelasan aku dulu," pinta Ara dengan suara terbata-bata. Dia memejam seiring dengan luruhnya butiran kristal dari kedua sudut mata. "Apa lagi? Udah jelas kalau kamu cewek simpenan Papa! Kamu udah ngerusak keharmonisan keluarga aku, Ara!" Saga semakin berapi-api.
103.2K viewsCompletedAdded to Library 91 Times as desperation
Read
+Library
Gairah yang Terpendam

Gairah yang Terpendam

Batin Rosa dengan senyum manisnya. Liang senggamanya yang telah lama tidak terjamah itu kian basah, mengharapkan pentungan itu segera masuk dan memenuhi hasratnya. Rosa mulai menggesekkan pentungan itu pada muara miliknya perlahan. Membuat rasa yang kian tak menentu untuk Rosa maupun Memet. Ah ... desahan menggoda Rosa mulai terdengar. Dengan sangat hati-hati Rosa mulai menuntun pentungan itu untuk masuk ke dalam muaranya yang masih sempit.
5.6K viewsOngoingAdded to Library 174 Times as desperation
Read
+Library
Bukan Wanita Miskin

Bukan Wanita Miskin

Desert menangis sesegukan, tidak kuasa dia memikirkan nasib Mary yang akan buta. "Mary sudah menderita gangguan jiwa, apakah harus kita tambah deritanya, dengan membuat dia buta. Oh Tuhan, bagaimana aku bisa setega itu, membuat anakku semakin hancur dalam hidupnya," lirih Desert. "Kalau begitu, biarkan Deslim mati saja. Untuk apa hidup? Melihat dunia saja tidak bisa, hanya menjadi beban hidup kalian saja." Desert semakin tertekan, dengan ucapan- ucapan Deslim.
1027.1K viewsCompletedAdded to Library 1.0K Times as desperation
Read
+Library
The Deepest Emotions

The Deepest Emotions

“Barang ini kuambil. Kau pulanglah, ibumu pasti mengkhawatirkanmu.” Noah hanya menunduk diam. Suara gemuruh kala itu sangat memekakkan telinga disusul dengan hujan yang sangat deras. Borris berdiri kemudian menyalakan lampu toko. “Sudah terlambat. Aku sudah berurusan dengan mereka sejak menemukan benda itu. Dari awal hidupku sudah menderita. Sudah tidak punya tempat tinggal, ibuku sekarang sedang koma, dan sudah ada orang yang ingin membunuhku. Kenapa aku harus lari sekarang, hidupku sudah hancur. Kami dari keluarga miskin, aku tidak sanggup lagi membebankan hidupku kepada ibu.”
105.7K viewsOngoingAdded to Library 165 Times as desperation
Read
+Library
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status