DIA AYAHKU
Dia mengangkat wajah, mata itu kini terlihat sayu, sudah basah seperti tanah yang yang tersiram air hujan di luar sana.
"Beri aku kesempatan, sayang. Satu kali saja," suaranya tak lagi begitu jelas terdengar. Parau dan dan tertahan. "Aku menyesalinya. Andai malam itu aku tak pergi dan mengakui semuanya, apa kau akan memaafkan aku?"
"Aku tak tahu," lirihku, ikut merasakan kesedihan itu. "Kau kemana saja rupanya?" akhirnya pertanyaan yang selama ini masih bermain-main di kepalaku, kupertanyakan juga.