Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai
"Steffi, aku berencana pulang ke kampung halaman akhir bulan ini. Kelak, aku seharusnya akan menetap di sana. Sisakan posisi untukku di salon kukumu."
Baru saja Noreen selesai berbicara, terdengar suara terkejut sahabatnya, Steffi, dari ujung telepon.
"Apa? Kamu mau pulang? Sekarang, pria malang yang kamu rawat dulu sudah jadi profesor termuda di Universitas Pratama! Kamu biayai dia selama bertahun-tahun dan akhirnya dia akhirnya sukses. Kenapa kamu nggak tinggal di ibu kota untuk menikmati hidup, malah tiba-tiba mau kembali ke kota kecil kita? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?"
"Nggak, dia sangat baik padaku," sela Noreen. Buku-buku jarinya tanpa sadar mengusap tepi ponsel. "Hanya saja aku nggak ingin tinggal di ibu kota lagi."