Malam yang sepi ini aku membayangkan kita berdua di sebuah dermaga kecil, hanya diterangi cahaya bulan dan lampu-lampu nelayan yang berayun pelan.
Cerita dimulainya sederhana: ada seorang pelaut yang menulis surat untuk bintang, mengatakan betapa ia rindu pada rumah. Bintang itu, karena iba, turun menjadi perfumed breeze yang selalu mengelus pipi sang pelaut saat ia pulang. Aku biasanya melambatkan suara saat sampai bagian ini dan berbisik, "Kalau kamu lelah, pegang tanganku; aku akan jadi angin yang mengantar mimpi." Buat pacar, ini jadi momen intim—kamu bisa menggenggam tangannya, menempelkan kepala pada dadanya, dan membiarkan kata-kata mengalir.
Akhirnya bintang dan pelaut tak pernah benar-benar berpisah: mereka bertukar cerita setiap malam, menyerupai janji sederhana bahwa seseorang selalu menunggu di ujung jalan. Aku menutup dengan kalimat yang lembut, seperti janji, "Di setiap perjalanan pulang, aku akan mencari wajahmu di antara kerlip-kerlip jauh." Cerita ini manis, tidak berlebihan, dan selalu membuat suasana hangat sebelum tidur.