Renjana
semua kata-kata itu berseliweran di otakku, kini aku mulai pening, ku pegang pelipisku dengan tangan kanan, aku mulai tertunduk berusaha menahan.
Sang analis mulai menempelkan alat pada telunjukku, dan cetek! Aku masih menutup mata, dan menahan kepalaku untuk tidak melihat luka di telunjukku.
"Tuh, kan dek, darahmu gak mau keluar, tarik napas, tenang, rileks," sang analis mengusap kembali telunjukku dengan kapas alkohol. Kini dia mengusap jari tengahku, oh tidak!
Hot Chapters