Suntik Aku, Mas Dokter!
Keringat dingin mulai membasahi lehernya, tanda nyalinya menciut.
Di balik pintu kamar mandi yang gelap, Adrian menyimak setiap kata dengan napas tertahan. Urat lehernya menegang, jantungnya berpacu seiring dengan makin panasnya pertengkaran di luar.
Dia mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih, bahunya bersandar kaku pada daun pintu jati itu. Seluruh otot tubuhnya tegang, siap meledak dan mendobrak keluar kapan saja. Dia hanya menunggu saat yang tepat untuk muncul.