Seribu Pintu Sindukala
Sayang sekali, rerumputannya sudah terlalu rimbun dan meninggi.
“Duh, mudah-mudahan enggak ada ular,” gumam Marsala.
“Enggak ada,” sahut Sindukala. Ia melepas masker medisnya, begitu juga Marsala dan Raesaka.
Tepat di tengahnya, berdiri rumah pondok berlantai dua, yang sederhana dan dikelilingi pepohonan. Rumah itu menghadap ke arah barat; beranda depan dan belakangnya cukup luas; lantai mau pun dindingnya dari kayu. Ruang utamanya diapit dua kamar tidur, sedangkan di belakang ruang utama, ada ruang makan, dapur, dan satu kamar mandi—Marsala memutar air kran pada bak mandinya, menampung airnya yang dingin di telapak tangan, memastikan airnya tidak kotor.
Hot Chapters