Om-Om Pilihan Papa
Aku tidak tahu harus apa sekarang.
Melamun dengan tatapan mengarah pada pintu, aku kaget kala persegi tersebut tiba-tiba membuka diri dan memuntahkan sesosok Om Bian yang sudah mengenakan pakaian rapi, rambut klimis tertata, sepatu hitam berkilau, jam tangan mahal di lengan kirinya dan segala sesuatu yang membuat wajahnya jujur saja nampak lebih tampan.
Ya, dalam hidup ini, dia hanya mempunyai wajah itu untuk sedikit aku kagumi karena yang lainnya nol besar.