Dia, Adnan.
Fathia segera menggelengkan kepalanya, menyanggah pernyataan maaf dari Adnan.
"Enggak, gak papa kok. Malah aku yang makasih, kamu pasti pegel kan nungguin aku tidur, pasti lama deh. Oh iya, kamu udah selesai ngelukisnya?"
Fathia mengikuti tatapan mata Adnan, kemudian ia baru menyadari bahwa baru sedikit goresan cat di atas kanvas, itu berarti sedari awal ia tertidur, Adnan menjadikan pahanya untuk menjadi bantal tidurnya. Kok bisa dia sweet kayak gitu?
Hot Chapters