Titik Nadir Sang Pendosa
“Pusing, Bang. Lumayan banyak soal yang mirip dengan yang Naura pelajari. Cuma ya, tetap saja pusing. Kayaknya lebih enak bekerja dan langsung menghasilkan uang daripada harus kuliah lagi begini. Yang begini ini memang cocoknya buat yang masih muda-muda, bukan bangkotan kayak Naura ini.”
“Kalau kamu lagi berpakaian seperti ini dan duduk di tengah-tengah mahasiswa itu, kamu malah terlihat seumuran sama mereka, Yang. Beneran. Katanya, generasi sembilan puluhan itu wajahnya awet muda.” Fatih terkekeh melihat Naura menatap ke arahnya dengan pandangan penuh selidik dan sebelah alis terangkat.
“Kalau generasi delapan puluhan kayak Abang berarti awet apa? Awet tua?”