Here are 33 novels related to gojo va for you to read online. Generally, gojo va or similar novel stories can be found in various book genres such as Fantasi, Romansa and Historical. Start your reading from Senior Gokil at GoodNovel!
sahut Bunda Gaby yang seperti nya bahagia bercampur gelisah karena Gaby akan meninggalkan nya sendiri dirumah.
*Ada pesan masuk ke nomor Gaby*
Gojek yang dipesan oleh Gaby datang dan menjemput nya untuk pergi ke rumah Cia. Sesampai nya dirumah Cia. "Ciaaaaaaa, aku kangen sekali pada mu" Gaby yang heboh karena melihat sahabat nya yang lagi menikmati bakmi ayam nya, heran kenapa. Gaby baru saja sampai sana jam 8 pagi tadi itu langsung mengampiri Cia yang asik menyeruput kuah bakmi miliknya, "Ciaa kenapa kau baru pulang setelah aku sudah menunggu lama" Sahut Gaby sambil memasang muka kesal karena selama ini Cia jarang berkomunikasi dengan nya selama di Amsterdam Belanda itu.
Saat aku, Vina dan Yoga ngobrol tiba-tiba pembawa acara berbicara lagi mengumumkan beberapa kriteria juara lagi.
“Juara favorit adalah peserta nomor 18 dengan nama Wagiman,” ucap pembawa acara dengan meriah.
“Maaaannnn… kamu berhasil menang,” ucap Vina sembari loncat-loncat.
“Emang kenapa kalau berhasil menang?” tanyaku dengan respon datar.
“Kamu bakal dapat uang dan pekerjaan dari agency,” jawab Vina dengan antusias.
“Alhamdullilah..,” ucapku sembari berteriak dengan senang.
tanya ibunya setengah mengejek Hayu.
“Bu, Hayu itu Jojoba, Jomblo-jomblo bahagia, Bu, maafkan Hayu, jojoba ini, sudah mendapatkan panggilan dari big bos, mamanya Candra. Jadi Hayu tidak bisa menolak,” tutur Hayu pada ibunya.
Astaghfirullah.
“Ini,” satu gelas taro mendarat di meja batu yang ada di depanku. Aksa kembali duduk di sebelahku dan menyeruput minumannya kembali. Ia terlihat begitu menikmati setiap tetes minuman taro yang membasahi tenggorokkannya.
“Aku bahkan tidak tahu kalau permasalahanmu bahkan lebih kompleks dari sekedar mantan pacarmu yang ingin balik lagi menjalin hubungan denganmu.” Perkataannya sukses membuatku was-was.
Sosok yang tidak mungkin salah ia kenali.
Adhinata Rahagi.
Berdiri di tribun, mengenakan kemeja biru tua yang sederhana, tetapi sorot matanya tajam. Di kanan kirinya, Liana dan Haidar terlihat duduk. Sementara Adrian dan Marisa berdiri di belakang mereka, melambaikan tangan kecil seperti bocah, seolah tidak peduli pada pandangan orang lain. Melupakan status pasangan itu yang merupakan seorang dokter dan wanita karir.
Persaingan
"Hallo calon CEO. Apa sudah dapat ide untuk presentasi?”
Reno nyelonong ke ruang kerja Andre. Andre kaget, lalu buru-buru menutup laptopnya. Reno menggodanya dengan menyentuh laptop Andre. Tentu saja Reno tidak benar-benar ingin melihatnya karena Reno yakin Andre belum mendapatkan konsep untuk presentasi. Bahkan Reno yakin Andre sama sekali belum memulai membuat konsep. Andre menepis tangan Reno, kuat.
Tidak ada pilihan, Eiko menghampiri dua pemuda itu.
“Hei, Eguchi, Tuan Yosihara,” sapa Eiko, begitu datar.
“Hei, Eiko. Bagaimana keadaan Pak Orochi?” tanya Eguchi.
“Sekarang dia sedang mengobrol dengan Isae. Oh ya, ini.” Eiko memberikan biji tomat kepada Eguchi dan Yosihara.
“Ini—”
Rimba berusaha menenangkan Gina.
"Oh, ok sorry," sesal cewek dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai itu. "Lo emangnya gak tahu siapa si Oja?"
"Namanya Seroja bukan Oja," protes Rimba.
"Iya, itu tuh nama panggilanya."
"Unik banget sih."
"Jadi, lo beneran gak tahu si Oja?"
Rimba hanya menggeleng sambil memasukan sesendok soto ke mulutnya.
Kaca mobil terbuka hingga memperlihatkan sosok pria dengan jas hitam yang dikenakannya.
Adam Tirtando.
Pria itu menoleh menatap ke arah Tila dengan kacamata hitam bertengger di matanya.
Adam tersenyum miring menatap Tila. Kemudian tanpa memberi tawaran tumpangan, Adam melajukan kendaraannya dengan knalpot mobil yang sengaja dibuat bising.
Dentuman keras tercipta saat tongkat baja yang ujungnya terdapat bola besar itu menghantam tanah dengan keras luar biasa.
“Sungguh tidak mencerminkan sifat kegagahan!” Lagi-lagi orang itu berseru saat menarik tongkat dan meletakkannya di pundak. “Aku, Jin Beng, akan jadi lawanmu,” katanya sambil menunjuk Cu Lim.