PELUKAN BERDARAH
“Baiklah, baik, Tuan Putri. Mau ke mana? Mau Kakak antar ke Jepang? Makanan khas Jepang enak-enak, lho.”
Nayla langsung melirik tajam, memutar bola matanya dengan malas. “Jangan aneh-aneh deh, Kak. Nggak usah lebay. Di Indonesia juga banyak makanan enak, nggak harus ke Jepang. Emangnya Jepang deket?”
Riko terkekeh pelan, menahan tawa. “Iya iya, maaf, Mbak realistis.”
Nayla hanya mendecak pelan, tapi senyum tipisnya tak bisa disembunyikan. Mereka saling diam sejenak nyaman dalam hening, tanpa perlu banyak kata.
Bab Populer