Istana Yang Ternoda
“Aku merasa ... lebih ringan sekarang. Entah kenapa, mungkin karena sebentar lagi anakku pergi untuk jadi prajurit. Mama harus kuat, kan?”
Suasana seketika menjadi hening. Rafasya menatap Kania, lalu Narendra. Ia menghela napas pelan lalu tersenyum bangga.
“Kalau aku yang jadi pemimpinnya, kamu yang jadi penjaganya, Mas,” kata Rafasya.
“Dan Nayaka?” tanya Narendra, melirik adik petakilannya itu yang sedang sibuk menyendok nasi.
“Aku? Aku jadi presiden OSIS internasional, dong!” serunya penuh gaya, membuat semua tertawa.
Hot Chapters