SUAMIKU MATI DI TANGANKU
Kami berdua bisu, tak dapat lagi berbicara satu sama lain.
“Maafkan aku, Rinda,” ucapku dengan isyarat mata. Aku memandang Rinda dengan tatapan iba. Rinda membalas dengan mengedikkan bahu. Meski tak terlihat, Rinda sepertinya maklum dan membalasku dengan senyum yang tertutup lakban.
Tak ada yang bisa kami lakukan sekarang selain bermenung, meratapi nasib, bermenung lagi dan kemudian tertidur.