Terpaksa Menikahi Janda
Di halaman rumah aku duduk di balai bambu, menatap jalanan yang masih sepi, mungkin di kampung memang seperti ini kondisinya jarang ada kendaraan yang berlalu lalang, aku masih fokus menatap ke depan saat suara ibu Fatimah mengejutkanku, “nak menantu, ini minumlah, untuk pereda rasa pedas tadi, di habiskan ya, biar enggak panas perutnya, bisa-bisa nanti jadi diare kalo enggak biasa. Maaf ya nak, ibu enggak tahu kalau kamu tidak pernah memakan cabai. “ Raut penyesalan tampak pada ekspresi ibu mertua. Aku jadi tidak enak hati kalau begini, “enggak apa buk, mungkin saya belum terbiasa. “ Aku menerima pemberian ibu Fatimah, kemudian meneguk air di dalam gelas dengan sedikit merasa aneh, rasanya